JOGJA – Pemprov DIJ dan PT Angkasa Pura (AP) I memang sedang getol-getolnya merealisasikan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. Kendati begitu, PT AP I tetap berniat merevitalisasi Bandara Adisutjipto. Tak tangung-tanggung, untuk pembenahan fasilitas bandara dialokasikan dana hingga Rp 110 miliar. Dari jumlah tersebut, untuk membenahi ruang tunggu saja diperkirakan menelan dana mencapai Rp 58 miliar. “Sisanya untuk taman bandara dan peningkatan fasilitas airlines,” ucap General Manager PT AP I Bandara Internasional Adisutjipto Agus Pandu Purnama di The Karaton Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel, Selasa (1/11).

Upaya pembenahan Adisutjipto tak lepas akibat raihan poin berdasarkan indeks kepuasan masyarakat terhadap 13 bandara yang dikelola AP I. Adisutjipto mendapat poin terendah dengan indeks 3,62.

Agus mengakui, kondisi saat ini, status internasional yang melekat pada Bandara Adisutjipto belum berimbang dengan pelayanannya.

Meningkatnya frekuensi penerbangan turut berpengaruh pada pelayanan. Agus menuturkan, kapasitas ruang terminal hanya cukup menampung 1,2 juta orang per tahun. Sementara data 2015 menunjukkan jumlah pengunjung mencapai 6,4 juta orang.

Minimnya ruang tunggu dan transit paling kerap dikeluhkan pelanggan. Bahkan, tak jarang penumpang harus duduk lesehan di lantai. “Hal inilah yang menyebabkan indeks kepuasan di bandara ini sangat kecil,” ungkapnya.

Di sisi lain, perusahaan maskapai juga selalu mengajukan penambahan penerbangan setiap tahun. Agus memperkirakan, trafik penerbangan per 2020 menjadi 76.085 pesawat. Dibanding data terakhir 2015 yang mencapai 68.729 pesawat.

Peningkatan tersebut tentu harus diantisipasi terkait pelayanan konsumen. Perbaikan landasan pacu juga masuk dalam pembenahan ini. Hanya, perbaikannya berupa penebalan landasan dan titik parkir pesawat. Mengingat kondisi lapangan, landasan pacu tidak bisa diperpanjang lagi. Sisi timur perpanjangan bandara berbatasan dengan Bukit Bokoharjo. Sedangkan di sisi barat terkendala oleh Jembatan Janti. Karenanya, tidak semua maskapai penerbangan internasional bisa transit di Adisutjipto.

“Tapi ini jadi acuan bagi kami dalam membangun bandara baru di Kulonprogo. Sehingga semua penerbangan terutama internasional bisa langsung landing tanpa transit,” katanya.

Advisor PT AP I Gunawan Agus Subrata mengatakan, upaya peningkatan indeks pelayanan bandara harus disikapi secara serius. Sebagai perbandingan, Bandara Adi Soemarmo di Boyolali terbilang lebih luas dibanding Adisutjipto. Padahal, angka penumpang transit maupun mendarat di bandara ini lebih kecil.

Selain perbaikan fasilitas internal juga perlu penunjang. Di antaranya, kerja sama antarinstansi hingga lingkungan sekitar bandara. Termasuk fasilitas perhotelan, wisata, dan penunjang lain di kawasan bandara tersebut.

“Secara struktural memang tanggung jawab Angkasa Pura untuk meningkatkan indeks. Tapi tidak bisa sendirian. Ada maskapai, calon penumpang dengan daya beli, fasilitas perhotelan dan lainnya. Harus ada sinkronisasi,” katanya. (dwi/yog/ama)