JOGJA – Aksi damai dilakukan bertepatan Hari Petani Tembakau Sedunia, beberapa waktu lalu (29/10). dengan tema “Selamatkan Penghidupan Kami,” yang diikuti seribu lebih petani tembakau dan cengkeh tersebut dipusatkan di titik nol. Aksi ini diikuti Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), Karya Tani Manunggal (KTM) Temanggung, dan Gerakan Masyarakat Tembakau Indonesia (GEMATI).

Dalam aksi damai tersebut, mereka menyatakan aspirasi para petani pada pemerintah terkait kelangsungan industri hasil tembakau nasional. Mereka juga menyampaikan petisi pada pemerintah untuk melindungi penghidupan mereka dari tekanan peraturan internasional. Seperti FCTC (Framework Convention on Tobacco Control atau Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau). Intinya, para petani dengan tegas menyatakan penolakannya terhadap salah satu ketentuan FCTC, yakni, kebijakan kemasan polos rokok yang tidak memperbolehkan pencantuman merek atau yang lebih dikenal dengan istilah”Plain Packaging. ” Alasannya, mengancam mata pencaharian jutaan petani tembakau Indonesia.

“Kami merasa sedih untuk mengetahui bahwa kebijakan kemasan polos tanpa merek semakin melemahkan daya saing produk tembakau Indonesia di pasar internasional dan akan mengakibatkan penurunan permintaan bahan baku tembakau dar ijutaan petani yang menggantungkan penghidupannya pada komoditas tersebut. Kami juga telah mengirimkan surat pada Menteri Perdagangan untuk menyampaikan kekhawatiran kami tersebut,” kata KetuaUmum APTI Nasional Soeseno di sela aksi.

Menurutnya, penerapan kebijakan kemasan polos tanpa merek dapat dilihat sebagai bentuk diskriminasi terhadap produk tembakau yang merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia.

Seperti diketahui, Industri Hasil Tembakau nasional tidak hanya berkontribusi secara signifikan dalam hal penerimaan negara dan penyerapan tenaga kerja. Dari sisi neraca perdagangan yang mencatat surplus ekspor selama lebih dari 5 tahun terakhir.

Pada 2015, nilai devisa yang dihasilkan dari surplus ekspor produk tembakau Indonesia mencapai 524 juta US Dolar. Nilai tersebut dapat dicapai mengingat Indonesia merupakan negara produsen-eksportir produk tembakau pabrikan kedua terbesar di dunia setelah Uni Eropa. Bertambahnya permintaan bahan baku dari pabrikan sangat berarti bagi petani tembakau dan cengkeh di Indonesia dalam menjaga kelangsungan mata pencahariannya.

“Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, kami percaya pemerintah Indonesia akan terus melawan kebijakan kemasan polos tanpa merek yang merupakan ancaman bagi jutaan petani tembakau dan cengkeh di Indonesia. Keputusan dari kasus sengketa dagang Indonesia – Australia di WTO merupakan titik yang penting dalam mencegah negara lain mengikuti Australia. Kami siap mendukung Pemerintah Indonesia agar tidak gentar menghadapi tekanan dari Pemerintah Australia dan meminta Pemerintah Australia segera membatalkan kebijakan tersebut,” ungkap Soeseno.

Sebelumnya, para petani yang tergabung dalam APTI,GEMATI, dan KTM telah melaksanakan aksi damai serupa untuk menyuarakan penolakannya terhadap kebijakan kemasan polos di kedutaan Australia pada November 2014 dan di Kedutaan Besar Perancis di Jakarta pada Juni 2015.(mar/hes)