JOGJA– Pasangan calon wali kota Jogja dan wakil wali Kota Jogja Imam Priyono dan Achmad Fadli memanfaatkan jatah kampanyenya dengan menyambangi para pedagang di Pasar Bringharjo kemarin (1/11). Mereka juga melakukan dialog dengan paguyuban pedagang pasar untuk menggali persoalan-persoalan yang terjadi di pasar tradisional. Achmad Fadli memiliki kedekatan dengan para pedagang. Sebab, dia pernah menjabat kepala dinas pengelolaan pasar (dinlopas) Kota Jogja.

Di hadapan para pedagang mereka berjanji akan memajukan pasar tradisional, bersinergi dengan usaha mikro kecil dan menegah. Harapannyapasar tradisional akan menjadi pusat perekonomian kreatif. Imam mengatakan sejak Dinloppas ditinggalkan Achmad Fadli pasar trandisional sempat mengalami kemunduran.Kepada pasangan nomor urut satu ini juga menerima keluhan pedagang pasar trandisional dengan merebaknya pembangunan‎ minimarket dan mal. Sebelumnya mereka juga melakukan kampanye di Pasar Kranggan.

Upaya Institute for Research and Empowerment (IRE) mempertemukan dua petahana yang sama-sama maju sebagai calon wali kota Jogja, Imam Priyono (IP) dan Haryadi Suyuti (HS) dalam satu forum diskusi terbuka urung terlaksana.

Gara-garanya HS yang semula telah menyatakan kesediaan hadir, tiba-tiba berhalangan. “HS memberi tahu sakit. Kami berharap Heroe Poerwadi (HP) dapat mewakili. Tapi keduanya sama-sama tidak datang,” ucap Direktur Eksekutif IRE Sunaji Zamroni di kantor IRE Karangmloko, Ngaglik, Sleman, kemarin (31/10).

Diskusi terbuka itu merupakan agenda bulanan IRE. Dalam diskusi itu IRE mengangkat tema seputar Pilwali dan Pembangunan Kota Jogja. Karena itulah kemudian Sunaji mengundang IP sebagai cawali nomor urut (1) dan HS selaku cawali nomor urut (2).

Pengalaman mengundang petahana yang sama-sama maju ke pilkada bukan kali pertama. 2015 saat Pilbup Sleman, IRE sukses menyandingkan Sri Purnomo dan Yuni Satia Rahayu yang sama-sama maju sebagai calon bupati. “Pak Sri dan Bu Yuni kala itu bersedia hadir,” kenangnya.

Tapi kali ini berbeda. Hingga diskusi berakhir hanya IP yang bersedia hadir. HS memilih mengirimkan Direktur HS Center Ashad Kusumajaya mewakili dirinya.

Ashad yang selama ini aktif di gerakan Surya Mataram yang getol menentang sabdaraja dan dawuhraja meyakinkan, duet HS-HP siap memimpin kota dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Manfaatnya makai huruf t, bukan huruf d,” ujarnya menyindir jargon duet Bersama Imam dan Fadli (Bermanfaad).

Selain itu, dia mengajak kepemimpinan dibangun bukan dengan sakit hati. HS-HP juga meyakinkan, bila terpilih tidak akan memberikan izin hotel yang selama lima tahun ini kadung menjamur.

“Kami lakukan moratorium. Selama lima tahun lalu, Pak HS telah memberikan delegasi beberapa kewenangan kepada wakil wali kota,” ujarnya.

Saat diberikan kesempatan bicara, IP langsung memberikan klarifikasi. Menurut dia, pendelegasian wewenang terjadi pada masa Wali Kota Herry Zudianto kepada wakilnya HS pada era 2006-2011.

“Untuk masa saya dengan Pak HS, SK pendelegasian wewenang itu tak pernah sampai ke meja saya. Soal ini saya siap diklarifikasi langsung dengan Pak HS,” ajaknya.

IP juga meluruskan beberapa data yang keliru disajikan Ashad. Misalnya terkait calon wali kota Endang Darmawan. “Pak Endang itu maju dalam pilwali 2001 bukan 2006 seperti disampaikan Mas Ashad. Kalau 2006, calonnya Pak Widarto. Mohon maaf saya luruskan,” ucap IP sambil melirik ke arah Ashad yang tampak terdiam.

Dalam paparannya IP mengatakan, bila mendapatkan amanat rakyat akan selalu melibatkan banyak pemangku kepentingan untuk menyelesaikan masalah kota. Misalnya pengelolaan parkir, mengatasi kemacetan dan lain-lain.

Dikatakan, beragam persoalan di kota tak mungkin diselesaikan sendiri. “Kami akan selalu terbuka menerima masukan,” ujarnya.

Diskusi publik itu makin gayeng dengan kehadiran menghadirkan pemerhati Kota Jogja sekaligus aktivis Warga Berdaya, Elanto Wijoyono. (sky/kus/din/ong)