SURABAYA – Semakin bertambah tahun, stroke banyak ditemukan di usia muda.

Bahkan, stroke adalah pembunuh nomor satu di Indonesia sejak 2014.

Gaya hidup yang salah menjadi pemicu utamanya. Karena itulah, Fakultas Kedokteran (FK) Unair mengajak masyarakat lebih peduli dengan deteksi dini stroke. M
ereka mengampanyekan skrining FAST (face, arm, speech, time) di Museum Kesehatan kemarin (30/10).

Mulai pukul 07.00-10.00, masyarakat sekitar berdatangan memadati pelataran Museum Kesehatan.

Satu per satu mendatangi tenda yang di dalamnya terdapat beberapa mahasiswa kedokteran Unair yang telah siaga.

Mereka antusias memeriksakan kondisi tubuh. Itu dilakukan sebagai upaya pencegahan stroke.

Mahasiswa kedokteran melakukan skrining awal.

Deteksi dilakukan dengan memperhatikan gerakan wajah pasien.

Kalau normal, pemeriksaan berlanjut ke area lengan.

Saat itu pasien diuji coba menggerak-gerakkan lengan secara bergantian kanan kiri.

Setelah itu, pasien diimbau berbicara. Mahasiswa kedokteran Unair memperhatikan cara berbicara pasien. Apakah cadel atau normal?
“Kalau terjadi apa-apa, langsung mencari bantuan medis untuk pemeriksaan selanjutnya,” ujar Riswanda Nooriza, ketua panitia event Bersama, Kita Bisa Taklukkan Stroke.

Dari pemeriksaan puluhan warga yang hadir, lanjut dia, belum ditemukan gejala stroke.

Dr Asra Al Fauzi SpBS melanjutkan, saat ini pasien stroke paling banyak ditemukan di usia 40-45 tahun.

Kondisi itu terbilang miris jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

“Kalau dulu, usia 50-60 tahun ke atas baru stroke,” jelas spesialis bedah saraf RSUD dr Soetomo tersebut.

Kalau tidak ada pencegahan dini, peluang menyerang usia muda semakin besar.

Mengapa stroke dapat menyerang usia muda? Asra menerangkan banyak faktor pemicunya.

Paling besar terkait dengan gaya hidup yang kurang terjaga dengan baik.

Terutama pada masyarakat perkotaan. Gaya hidup salah yang dimaksud, antara lain, sering makan sajian tidak sehat serta tidak teratur, kurang olahraga, kurang istirahat, dan stres yang tinggi.

“Faktor gaya hidup ini dapat menyebabkan stroke sampai 80-85 persen,” katanya.

Sedangkan 15 persen faktor sisanya disebabkan kelainan pembuluh darah.

Karena itulah, Asra mengimbau masyarakat lebih peduli untuk melakukan pencegahan dini.

Siapa pun itu, tidak harus ke tenaga medis, masyarakat dapat melakukan skrining dini.

Caranya mudah karena tanda-tanda stroke dapat dikenali. Salah satunya melalui skrining FAST.

“Gerak-gerakkan anggota badan saja. Apakah ada yang lumpuh atau tidak seperti biasanya,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) tersebut.

Sering kali masyarakat mengabaikan gejala stroke. Akibatnya, gejala tersebut menumpuk dan akhirnya menyebabkan stroke de­ngan stadium parah.

Kalau sudah demikian, tentunya, pasien sendiri yang dirugikan.

Karena itulah, lanjut dia, pencegahan lebih baik daripada penyembuhan. Penanganan yang dilakukan secepatnya juga memberikan peluang kesembuhan stroke lebih besar. ‘
‘Ayo, jangan remehkan stroke. Kenali tanda-tandanya sejak dini,” kata Asra.

Gejala yang ringan bisa disebut dengan ministroke. Asra menjelaskan, ministroke terjadi dalam rentang waktu 24 jam.

“Merasa lumpuh sebagian, lalu hilang,” ujar alumnus FK Unair tersebut.

Nah, gejala yang muncul hanya sekejap itulah yang sering diabaikan masyarakat. (bri/c19/dos/flo/jpnn/ong)