MUNGKID – Hak kekayaan intelektual (HKI) tidak hanya sekadar menjadi pengertian belaka. Kekayaan intelektual juga harus dipahami sebagai suatu rangkaian kegiatan yang melibatkan banyak pihak, serta melalui tahapan yang harus dilalui untuk mendapatkan pengakuan atas kemanfaatannya.

HKI muncul dari sebuah ide yang dikembangkan dan dipatenkan. Perlindungan HKI ditujukan untuk kepastian hukum dari segi moral maupun ekonomi. HKI meliputi hak cipta dan hak kekayaan industri.

“Adapun objek yang dilindungi mencakup penciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra seperti buku, alat peraga pendidikan, gambar, kolase program komputer, dan video game,” kata Manajer Sentra HKI Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang Moehamad Aman saat Sosialisasi Kekayaan Intelektual di Gedung Rektorat kemarin (1/11).

Aman menjelaskan, Sentra HKI UM Magelang saat ini mendaftarkan enam hasil penelitian para dosen, serta 129 merk dagang sebagai objek kekayaan intelektual. Selain itu juga mendaftarkan dua karya dosen UM Magelang untuk dipatenkan. “Tahun ini diharapkan karya itu dapat fixed dipatenkan dan segera kami publikasikan,” jelasnya.

Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya untuk mengenalkan kekayaan intelektual kepada masyarakat. Dengan adanya sosialisasi diharapkan para peserta dapat melakukan kegiatan yang berpotensi pada kekayaan intelektual agar mendapatkan perlindungan.

Selain Moehamad Aman, Agus Setyo Muntohar juga menjadi pemateri dalam acara yang dibuka oleh Rektor Eko Muh Widodo itu. Agus merupakan pelaku HKI serta dosen produktif di UMY menyampaikan materi tentang penelitian yang berpotensi kekayaan intelektual. (ady/laz/ong)