Dijaga Baik-Baik Anaknya, Jadi Petuah yang Akan Terus Diingat

Sosok Dahlan Iskan yang dikenal spontan, jujur, dan ramah begitu membekas di benak orang yang pernah bertemu dan mengenalnya. Itu pula yang dirasakan HENDRI UTOMO, wartawan Radar Jogja, saat mendampingi Dahlan Iskan, ketika masih menjabat sebagai Menteri BUMN, melihat peternakan kambing etawa di Purworejo.

MALAM Itu tanggal 21 September 2012, pesan singkat itu masuk sekitar pukul 18.41 dan hanya berisi tiga kata. Juga dengan ejaan yang tak lengkap “saya dahlan iskan”. Pesan singkat berikutnya menyusul pukul 18.42 isinya, “Anda mau gabung saya? Saya baru sampai Kulonprogo. ” Pesan singkat asli dari Dahlan tanpa saya ubah struktur bahasanya.

Teka-teki kedatangan Dahlan akhirnya diperjelas dengan pesan singkat yang masuk pukul 18.50. “Mas Hendri, saya lagi menuju Purworejo. Tolong teleponkan pak bupati, saya kulonuwun malam ini mau lihat program PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) BUMN di Purworejo secara mendadak. Ingin tahu kebenaran laporan keberhasilan program itu. Suwun. ”
Hingga Pukul 19.11, pesan singkat itu berhenti, berganti dengan sambungan telepon yang isinya masih sama, mempertegas maksud dan tujuannya datang ke Desa Sumowono.

Saya masih ingat betul suara Dahlan saat itu, karena setelah telepon itu ditutup saya juga menyempatkan diri untuk mencatat apa isi pesan dalam telepon tersebut. “Mas saya tidak ke pendopo, saya cuma mau kulonuwun sama pak bupati kalau hari ini saya mau meninjau program PKBL BUMN di Desa Sumowono, Kecamatan Kaligesing. Saya tidak mau merepotkan,” tutup Dahlan Iskan.

Menyimak telepon dan SMS terakhir itu, saya sudah membayangkan akan menempuh medan jalan ke Desa Sumowono yang berada di pucuk gunung itu seorang diri. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menghidupkan motor, tangki bahan bakar sepeda motor saya isi penuh di SPBU Cangkrep, Purworejo.

Sebelum sampai SPBU itu, saya menyempatkan diri datang ke Pendapa Rumah Dinas Bupati Purworejo dengan maksud menyampaikan langsung pesan itu kepada Bupati Purworejo Mahsun Zain. Namun pesan Dahlan yang tak akan mampir ke rumah dinas bupati, membuat saya tak berlama-lama berada di sana. Saya putuskan lebih baik langsung menyusul ke Desa Sumowono.

Namun demikian, untuk lebih meyakinkan saya masih sempat menemui pertugas kepolisan yang tengah patroli di dekat tugu Adipura sisi timur Alun-Alun Purworejo. “Maaf apakah bapak melihat ada iring-iringan mobil pejabat, atau ada informasi Mentri BUMN berkunjung ke Purworejo. ” Salah satu Polisi menjawab. “Tidak ada, kami juga tidak ada perintah atau laporan kunjungan menteri,” ucapnya.

Terlintas dalam prediksi saya, rombongan Dahlan mungkin naik melalui jalur alternatif Jogjakarta-Purworejo via Nanggulan, Kulonprogo dan langsung menuju Desa Sumowono. Sontak saya putar gas dan memacu sepeda motor sekencang-kencangnya.

Namun tanpa diduga, saya berhasil menyusul Dahlan di ruas jalan sebelum Kantor Kecamatan Kaligesing. Mobil yang ditumpangi Dahlan berhenti tepat di depan Kantor Polisi Sektor (Polsek) Kaligesing.

Kebiasaan Dahlan yang sering datang secara tiba-tiba untuk melakukan inspeksi mendadak itu terbukti bukan isapan jempol. Saya membuktikan sendiri malam itu. Saat saya temui, Dahlan dan tiga stafnya masih bertanya arah jalan Desa Sumowono ke salah satu anggota polisi yang nampak masih bingung tengah berhadapan dengan siapa. Tidak sadar kalau di depannya adalah Menteri BUMN.

Saya pun langsung menghampiri. Dahlan Iskan, “Oh anda, Hendri ya? “Ya pak betul, saya diminta menemani bapak,” jawabnya. “Cepat sekali anda menyusul sampai sini. Sudah sepeda motornya titipkan di sini saja, anda ikut saya,” ujarnya.

Saat di dalam mobil, Dahlan mulai melontarkan pertanyaan. Sementara selama memacu sepeda motor, saya sempat berpikir apakah nanti saya akan ditanya seputar profesi dan kinerja saya selama bekerja di Radar Jogja (Jawa Pos Group).

Dan semua dugaan yang terlintas dalam pikiran saya itu dihempaskan seketika. Dahlan justru bertanya jauh dari bayangan saya.

“Tinggal dimana?” tanya Dahlan membuka obrolan. “Kebetulan saya tinggal di Purworejo pak,” jawab saya. Lalu Dahlan kembali bertanya “Aslinya?”. Saya pun menjawab, “Lahir di Jogjakarta, tapi saya besar di Purworejo.

“Di Purworejo tinggal dimana?” tanyanya. “Saya tinggal dikontrakan pak,” jawab saya. Pertanyaan pun terus mengalir.

“Sudah berkeluarga, sudah punya anak berapa?” Sudah, kebetulan anak saya satu baru umur dua tahun. “Istri bekerja?” tanyanya lagi.

“Dulu sebelum menikah istri saya sempat menjadi guru honorer, tapi setelah menikah saya ajak ke Purworejo dan sekarang menganggur mengurus anak di rumah,” terang saya.

Pertanyaan seputar kehidupan rumah tangga itu akhirnya diakhiri dengan petuah yang sampai saat ini terus saya ingat,
Dahlan berpesan, “Istri saya dulu juga bekerja, lalu justru saya yang menyuruh dia berhenti untuk fokus mengurus anak saya! Minimal anak sampai usia 7 tahun harus mendapat perhatian penuh. Dijaga baik-baik anaknya ya,” ucapnya. (ila/bersambung)