SLEMAN – Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mendorong setiap sekolah membuka ruang lebih luas bagi siswa untuk berkarya. Hal itu demi memberikan kesibukan positif bagi pelajar di luar jam pelajaran. Agar mereka terhindar dari aksi klithih atau terlibat geng pelajar.

“Geng pelajar ada karena sebagai pelarian. Anak kadang merasa tidak ternaungi saat di rumah atau sekolah,” tutur Muslimatun di sela pencanangan Sekolah Ramah Anak di SMPN 3 Kalasan kemarin (31/10).

Selain ruang berkarya, sekolah diminta member kebebasan siswa untuk mengemukakan pendapat. Karena itu merupakan hak asasi.

“Orang dewasa harus bisa menyelami menyelami pola pikir anak. Biarkan mereka berkreasi dan berpendapat asal sesuai koridor tatanan yang berlaku,” tegasnya.

Langkah tersebut, lanjut Muslimatun, menjadi bagian pelaksanaan amanat Perbup No 19/2016. Pemenuhan hak pelajar termasuk upaya mendukung Sleman menuju kabupaten layak anak.

Dengan tambahan SMPN 3 Kalasan, total ada 39 sekolah di Sleman berkategori ramah anak. “Jadi pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab semua. Baik sekolah, pemerintah, lingkungan rumah, dan terutama orang tua. Jangan sampai hak dasar anak tercederai,” ingatnya.

Kepala Sekolah SMPN 3 Kalasan Moh. Tarom mengatakan, pencanangan lembaganya sebagai sekolah ramah anak mengacu pada UU No. 20 /2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 23/ 2002 tentang Perlindungan Anak. Intinya, hak anak harus dipenuhi dari berbagai aspek. “Konsep belajar anak sejatinya adalah bermain.

Namun, hal ini justru sering dikesampingkan karena diangap tak ada guna. Padahal bermain termasuk proses belajar, pembentukan karakter dan bekerja. Hanya perlu dikemas dengan konten yang bermanfaat dan bernilai untuk anak,” paparnya.(dwi/yog/ong)