BANTUL – Dinas Kebudayaan DIJ kembali menyelenggarakan Festival Bregodo Rakyat, kemarin (30/10). Kali ini, Kabupaten Bantul yang didapuk sebagai tuan rumah. Berbeda dengan tahun sebelumnya, festival kali ketiga ini banyak menampilkan bregada-bregada perempuan.

Ketua Panitia Festival Bregodo Rakyat Widi Hasto membenarkan banyak wajah baru yang berpartisipasi dalam festival kali ini. Termasuk di antaranya keterlibatan perempuan sebagai anggota bregada. Hampir setiap kelompok atau paguyuban bregada memiliki anggota perempuan.

“Ini penting. Karena selama ini prajurit keraton identik dengan laki-laki,” jelas Widi di sela acara kemarin.

Widi melihat ada sisi positif dengan fenomena perempuan sebagai anggota bregada. Itu menunjukkan peran politik kesetaraan gender cukup berhasil. “Nanti akan kami dukung terus perkembangannya,” ucapnya.

Widi menyebut, ada 36 kelompok atau paguyuban bregada yang ikut andil dalam festival kali ini. Mereka dari berbagai kabupaten/kota di DIJ. Seperti Bantul, Sleman, Kota Jogja, Kulonprogo, dan Gunungkidul. Dengan jumlah personel sebanyak 1.612 orang.

Dengan adanya festival ini, Widi berharap, kelompok atau paguyuban ikut mendapatkan kesempatan unjuk gigi di luar wilayah masing-masing. Sebab, selama ini mereka hanya tampil di depan publik desa masing-masing. “Dengan begitu masyarakat luas juga mengetahui mereka,” ujarnya.

Selain keterlibatan perempuan, Widi juga mengapresiasi kian beragamnya model kostum dan musik yang ditunjukkan setiap kelompok bregada. Tidak ada standar baku dengan model kostum (toto busono) dan musik (ungel-ungelan) bregada. Begitu pula dengan tata cara berjalan (toto lampah) bregada. Mengingat, para peserta festival ini bukan bregada keraton yang sebenarnya.

“Justru ketiga hal tadi yang menjadi penilaian tim juri,” ungkapnya.

Widi berharap, keberadaan kelompok bregada tetap dilestarikan. Sebab, keberadaan kelompok bregada tidak sekadar melestarikan kebudayaan. Lebih dari itu, juga menjaga kerukunan dan persatuan warga. “Kalau masih ada, tahun depan festival di Kulonprogo,” jelasnya.

Sujadi, 52, anggota kelompok Bregodo Wiro Bekel mencatat ada 15 remaja putri yang menjadi anggotanya. Rata-rata mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tetapi, setelah mereka bertambah dewasa mengundurkan diri sebagai anggota bregada. “Karena malu,” ucap pria asal Dusun Bekel, Tirtonirmolo, Kasihan ini.

Menurut Sujadi, biasanya, anggota bregada perempuan didandani dengan kostum Srikandi. Lengkap dengan senjata panah. (zam/ila/ong)