SLEMAN – Praktik pelayanan kesehatan secara ilegal oleh warga negara asing (WNA) terjadi di Jogjakarta. Seorang tabib asal Tiongkok, Chen Han, 35 ditangkap petugas imigrasi, Kamis (27/10) malam. Chen yang membuka praktik di Jalan Sultan Agung, Mergangsan, Kota Jogja tak mampu menunjukkan izin praktik dan dokumen resmi lain kepada petugas yang menyambanginya. Dia hanya menunjukkan foto kopi paspor bernomor E52237489. Sejauh ini, Chen Han diketahui hanya memiliki izin wisata.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) DIJ Pramono menjelaskan, dokumen resmi tersebut meliputi izin perjalanan, izin tinggal, dan izin bekerja di Indonesia. Saat ini kasus tersebut masih dalam penyelidikan. “Bila tidak memiliki dokumen sah secara lengkap, kami deportasi. Kembalikan ke negara asal,” tegas Pramono di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jogjakarta kemarin (28/10).

Petugas juga menelusuri dokumen keimigrasian Chen Han dan memburu aktor yang membawa masuk Chen Han ke Indonesia.

Atas tindakannya, Chen Han terancam pasal 71 huruf (b) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian.

Terungkapnya kasus ini berawal dari inspeksi mendadak yang digelar pihak imigrasi. Saat ditangkap Chen Han sedang melayani pasien. Dia dibantu dua asisten asal Indonesia, yang sekaligus berperan sebagai penerjemah. Untuk sekali pengobatan atau paket terapi herbal, Chen Han memasang tarif antara Rp 1,5 juta hingga Rp 25 juta per pasien. Chen Han mengaku telah menjalani praktik kesehatan selama tiga bulan.

Plt Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Jogjakarta Kurnia Dwi Nastiti menambahkan, razia WNA digelar dalam rangka gerakan serentak (gertak) penindakan keimigrasian di seluruh Indonesia. Petugas gabungan Kemenkumham dan kantor imigrasi merazia empat lokasi yang diduga menjadi tempat tinggal WNA.

“Sebagian besar (WNA, Red) yang tinggal di Jogja memiliki dokumen izin tinggal untuk belajar,” katanya.

Menurut Kurnia, di DIJ terdapat sekitar 300 WNA pemegang izin tinggal tetap. Mayoritas karena menikah dengan warga lokal dan menetap di DIJ.

Sedangkan WNA pemegang izin sementara sekitar tiga ribu orang. “Izin tinggal sementara bisa untuk perjalanan wisata atau belajar,” jelasnya. (bhn/yog/mg1)