MUNGKID – Warga bersama relawan bahu-membahu mengevakuasi truk yang terjebak material banjir lahar hujan kemarin (28/10). Tiga alat berat backhoe dikerahkan ke lokasi untuk membantu mempercepat proses evakuasi.

Truk terjebak material lahar lantaran tidak bisa naik saat banjir terjadi di Sungai Bebeng, Desa Kaliurang, Srumbung. Ada 10 truk (bukan 11 truk seperti berita kemarin) yang terjebak material lahar.

Truk-truk itu berasal dari beberapa daerah di sekitar Magelang. Di antara 10 truk itu, kebanyakan mengalami rusak berat dan bodinya penyok.

Salah seorang awak truk, Sabar, 35, mengatakan, saat proses memuat pasir ia mendengar suara gemuruh dari atas. Kemudian selang beberapa menit banjir lahar hujan datang. Dengan situasi itu, para sopir dan penambang manual menyelamatkan diri dengan cara naik ke pereng sungai.

“Setelah tahu banjir datang, langsung menyelamatkan diri,” katanya. Warga dan penambang menurunkan tiga alat berat backhoe untuk mengevakuasi bangkai truk.

Tokoh Masyarakat Desa Kaliurang Suharno menjelaskan, proses evakuasi tidak akan berjalan cepat jika harus dilakukan secara manual. Ini karena kedalaman timbunan material banjir lahar mencapai lima meter lebih. “Selain itu juga ditambah material batu yang tentu akan sulit dilakukan jika menggunakan cara manual,” katanya.

Menurut dia, faktor cuaca yang yang tidak menentu menjadikan kendala tersendiri saat proses evakuasi. Karena di bantaran Sungai Bebeng memiliki tebing yang curam, sehingga rawan longsor saat hujan turun.

“Jalur kendaraan yang sempit membuat warga tidak bisa menyelamatkan diri dengan cepat jika banjir lahar menerjang kembali,” katanya.

Kapolsek Srumbung AKP Suwidodo menyampaikan, banjir hujan di Sungai Bebeng mengakibatkan 10 truk terjebak. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun truk mengalami kerusakan.

Adapun 10 truk itu, sopirnya berasal dari beberapa daerah. Di antaranya Alek, 30, warga Jagang Kidul, Kecamatan Salam; Sabar, 30, Herman, 35, warga Dowakan Kecamatan Srumbung; Rachim, 40, warga Borobudur; Supriyato, 29, warga Selo Irieng, Jumoyo, Kecamatan Salam; Wandari, 27, warga Srumbung; Wempi Jelehan, 30, Srumbung. Sementara Romadhon, 40, Rusmani, 32, dari Semarang.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Supranowo meminta sopir untuk memikirkan keselamatan jiwa. Jika truk masuk ke area tambang pasir secara bersama-sama, maka akan membahayakan keselamatan awak sopir sendiri. Truk nanti akan kesulitan keluar area pertambangan.

“Kalau sudah terjadi seperti ini, para penambang dan sopir truk harus memperhatikan tempat-tempat yang dilarang untuk ditambang,” katanya.

Di aliran sungai kawasan tambang, nantinya akan dapat terkena banjiir material. Ia pun beraharap, penambang dan sopir tidak melakukan penambangan di tempat yang merupakan larangan penambangan. “Seperti itu membahayakan karena pada kondisi musim ini kerap hujan,” kata Supranowo. (ady/laz/mg2)
Wagub: Perlu Penataan Lingkungan
Terjebaknya 10 truk saat banjir lahar hujan di area penambangan pasir lereng Merapi, mendapat perhatian Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko. Ia mengatakan, sejauh ini, provinsi sedang melakukan penataan lingkungan.

Dikatakan, persoalan penambangan sebelumnya ditangani pemerintah kabupaten/kota. Kini, persoalan itu sudah ditangani pemerintah provinsi.

“Harus dipahami ini sekarang sedang diciptakan kelembagaannya, agar penanganannya lebih efektif,” kata Wagub saat berkunjung ke Mungkid, kemarin (28/10).

Menurut dia, kalau menyangkut bencana, maka harus ditolong. Adapun menyangkut lingkungan, perlu dilakukan penataan secara bersama-sama. “Yang menambang juga rakyat kita. Tapi nanti soal lingkungan harus ditata lebih baik,” katanya. (ady/laz/mg2)