Okestra BMD Siap Tampil di Grand Pasific

JOGJA- Sebanyak 357 siswa Budi Mulia Dua (BMD) siap tampil dalam pagelaran orkestra di Grand Pasific hari ini (29/10). Mengusung tema “Who’s the Super Hero”, seluruh penggawa BMD beharap mampu menghibur semua penonton.

“Saat ini kesiapan sudah 90 persen. Tinggal nunggu hari H-nya saja. Semoga sesuai rencana,” ujar Sutradara Event Dewi Kusumawardhani saat ditemui Radar Jogja saat geladi bersih Hall Grand Pasific kemarin (28/10).

Sebagai salah satu pembimbing, Dewi mengaku senang dapat berpartisipasi dalam acara ini. Antusiasme para siswa yang begitu besar, ditambah dengan kecerian mereka selama latihan menjadi semangat tersendiri baginya.

“Pagelaran ini sebenarnya adalah event bersama, sekaligus wujud apresiasi BMD kepada murid- muridnya. Bisa dibilang ini pestanya anak- anak. Meski harus berlatih setiap jam pulang sekolah itu tidak masalah,” lanjutnya.

Menurut Dewi, ide super hero muncul karena kurangnya pengetahuan anak terhadap siapa dan apa arti kata itu. Yang mereka tahu, super hero hanyalah tokoh fiktif di film- film. Padahal, lanjut Dewi, para super hero ada di sekitar masyarakat. Seperti orang- orang terdekat. Misalnya, ibu, bapak, atau para guru.

Si Buta Dari Gua Hantu, Wiro Sableng, Gatot Katja, Superman, Batman, Spiderman, dan Captain America merupakan sebagian contoh super hero yang dikenal anak-anak.

Mereka disebut super hero bukan karena suka bertarung. Namun karena mereka memiliki sifat-sifat baik hati, membela kebaikan dan kebenaran, memusuhi keburukan, dan kejahatan, serta suka menolong, mengutamakan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan diri sendiri.

Kesimpulannya, siapapun yang memiliki sifat-sifat mulia lantas disebut super hero. “Untuk menggambarkan hal tersebut, lagu yang dibawakan meliputi Terima Kasihku, Terbaik Bagimu, dan Raise Me Up,” katanya.

Direktur Perguruan BMD Jogja Siti Nurlisa Dewanta mengatakan, sebagai lembaga pendidikan BMD menyadari pentingnya membentuk karakter dan mental anak melalui berbagai cara dan media. Nilai-nilai kebaikan, seperti kedisplinan, kerja keras, semangat belajar, menjaga kesehatan, saling berkoordinasi, dan berkomunikasi diajarkan dalam praktik agama, olah raga, dan musik.

“Implementasi dari bermusik inilah yang kami wujudkan dalam pagelaran grand orkestra BMD 2016,” tuturnya.

Meski sebatas pagelaran musik sekolah, tim yang terlibat dalam acara tersebut tak mau asal- asalan dalam mempersembahkannya. Segala macam proses telah dilalui. Mulai menentukan ide, alur cerita, komposisi, dan audisi untuk pemain. “Bagi kami ini adalah karya, jadi bagaimanapun juga baik itu ide, alur cerita, pemain, hingga tata panggung perlu dipersiapkan dengan matang. Alhasil dalam kurun waktu tiga bulan, semua persiapan dinyatakan telah siap,” ujarnya.

Orkestra BMD 2016 ini adalah yang ke-16 kalinya. Dengan melibatkan semua siswa mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan SMK, acara yang dikonduktori Budi Ngurah dan beberapa mahasiswa ISI telah menjadi agenda tahunan dimana penikmatnya tak hanya sebatas wali murid ataupun keluarga tetapi juga penikmat orkestra. (*/met/yog/mg1)