Kecamatan Prambanan Entaskan Kemiskinan dengan PNPM Mandiri Perdesaan

Kecamatan Prambanan menjadi salah satu wilayah di Kabupaten Sleman dengan jumlah warga miskin cukup tinggi. Dengan optimalisasi dana program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri perdesaan, Prambanan mampu mengentaskan kemiskinan melalui gerakan ekonomi mikro.
DWI AGUS, Sleman

Ratusan warga berkerumun di kantor Kecamatan Prambanan, Kamis (27/10) pagi. Hari itu memang istimewa. Para penerima manfaat PNPM itu tengah menunggu namanya dipanggil untuk menerima bantuan usaha.

Beragam alat kerja tertata rapi di pendapa kecamatan. Ada mesin jahit, kompor gas, sepeda, etalase, hingga kambing ternak. Semua benda tersebut merupakan wujud penghargaan bagi warga setempat atas suksesnya program PNPM mandiri.

“Sepuluh tahun kami mengelola dana PNPM. Sejak 2006, hanya bermodal awal Rp 328 juta, saat ini sudah mencapai Rp 5,6 miliar,” ujar Ketua Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kecamatan Prambanan Agus Pudianto.

Agus sangat bangga melihat progres program yang dijalankannya. Terlebih, program tepat mengenai sasaran yang diharapkan. Yakni, masyarakat miskin.

Dari total nilai aset Rp 5,6 milliar, kata Agus, 15 persen merupakan dana social. Sebesar Rp. 131.491.000. Semua disalurkan untuk warga kurang mampu. Dari jumlah itu, Rp 60 juta dialokasikan untuk bedah rumah. Sisanya dibelanjakan alat-alat produksi sesuai kebutuhan warga. Yang penting bisa digunakan untuk mendukung ekonomi keluarga.

“Tak sedikit anggota kami meningkat taraf hidupnya. Kami mendorong warga tak mampu agar meminjam dana usaha,” katanya. Program PNPM mandiri sejatinya berakhir 31 Oktober 2015. Namun, program tetap berjalan on the track sampai sekarang. Hanya, ada pengalihan kewenangan dari kementerian dalam negeri ke kementerian desa, daerah tertinggal, dan transmigrasi.

“Dana pinjaman tanpa agunan dan tidak dipotong biaya apapun agar tak membebani masyarakat. Mereka justru dapat reward seperti saat ini,” lanjut Agus.

Saat ini, dana PNPM mandiri Prambanan dimanfaatkan oleh 1.875 orang dari 212 kelompok warga kurang mampu.

Camat Prambanan Abu Bakar sangat apresiatif dengan capaian itu. Program tersebut bukan saja memotivasi masyarakat kurang mampu untuk maju. Tapi juga menepis anggapan adanya ketergantungan warga terhadap kucuran dana. “Buktinya, 21 kepala keluarga di Desa Wukirharjo mengembalikan kartu miskin karena ekonomi mereka memang meningkat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun berharap perubahan perilaku warga miskin Prambanan bisa menular di daerah lain. “Keberhasilan program PNPM ini layak jadi percontohan,” ujarnya.

Saat ini ada 10 kecamatan yang memanfaatkan dana bergulir PNPM mandiri yang dikelola Pemkab Sleman. Yakni, Minggir, Seyegan, Godean, Gamping, Mlati, Depok, Berbah, Kalasan, Prambanan dan Kecamatan Cangkringan. Adapun, program PNPM mandiri perdesaan yang dikembangkan pemerintah daerah juga mengalami peningkatan sifnifikan. Dari modal awal hanya Rp 3 miliar, saat ini mencapai Rp 30 miliar. Terhitung per 21 Agustus. Dengan jumlah pemanfaat mencapai 10.942 orang.(yog/mg1)