Jaga Ekosistem Alam hingga Deklarasi Pelajar Antinarkoba
SLEMAN – Banyak cara bisa dilakukan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. Di Sleman, pemuda asal Dusun Sempu, Wedomartani, Ngemplak mengadakan upacara bendera di tengah aliran Sungai Kuning. Sementara pelajar di Kota Jogja dan Bantul deklarasi cinta damai dan antinarkoba.

Ya, bagi karang taruna Dusun Sempu peringatan Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk mendongkrak semangat menjaga ekosistem sungai. Diawali upacara yang diikuti 200 peserta. Mereka sengaja memilih tempat di sungai yang berhulu puncak Gunung Merapi. Sungai Kuning termasuk kawasan konservasi air yang harus dijaga kelestariannya.

Di tengah upacara, para peserta membaca ikrar sungai. Mereka berkomitmen menjaga kawasan ekosistem sungai di Sleman. Karena fungsi dan peran sungai sangat besar bagi masyarakat, dari hulu hingga hilir. “Menjaga ekosistem memang harus melibatkan generasi muda. Sebagai tonggak terdepan, pemuda memiliki peran mengawal keselarasan alam. Juga turut bertanggungjawab menjaga ekosistem sungai dan sekitarnya,” ujar Ketua Pelaksana Upacara A.G. Irawan kemarin (28/10).

Menurutnya, kondisi sungai selama ini kurang terawasi. Peran warga untuk menjaga ekosistemnya pun belum berjalan optimal. Hal itu tak lepas oleh paradigm bahwa sungai menjadi tanggung jawab warga yang tinggal di dekatnya. Karena itu, aliran sungai yang jauh dari permukiman penduduk menjadi tak terawat. “Masalah inilah yang menjadi celah bagi penambang pasir liar,” bebernya.

Permasalahan muncul ketika dampak penambangan mulai dirasakan oleh masyarakat. Padahal, langkah antisipasi dapat dilakukan sejak dini melalui pengawalan ekosistem sungai. “Sungai tempat berkumpulnya mata air dari berbagai titik. Jika tidak dijaga dengan baik dampaknya sangat besar. Kalau mata air rusak, masyarakat hilir akan kesulitan mendapatkan air bersih,” lanjut Irawan.

Sementara Ketua Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta (AKSY) Endang Rohjiani mengungkapkan banyaknya penyimpangan pemanfaatan daerah aliran sungai. Terutama terkait kawasan sempadan yang idealnya berjarak 50 – 100 meter dari bibir sungai.

Ending menyebut, penambangan liar merupakan momok terbesar bagi ekosistem. Hal itulah yang mendorong pemuda desa di sepanjang hulu aliran Sungai Kuning menebar semangat menjaga kelestarian Sungai Kuning.

Peringatan Sumpah Pemuda di Alun-Alun Utara Jogja berlangsung semarak. Ribuan siswa dari berbagai sekolah di DIJ mendeklarasikan gerakan “Pelajar Jogja Cinta Damai dan Anti Narkoba”.

Deklarasi dilantangkan Jeni Somantri, siswa SMKN 1 Sanden, Bantul. Para pelajar berjanji menjadi duta cinta dami dan pelopor antinarkoba. “Kekerasan bukanlah karakter seorang pemuda. Kekerasan bukan sebuah contoh yang baik. Jangan jadi pahlawan dengan sok jagoan. Pelajar memiliki tugas belajar untuk mengisi pembangunan,” ujar Jeni.

Usai deklarasi, para pelajar membubuhkan tanda tangan mereka di atas spanduk. Itu sebagai bukti janji mewujudkan Jogjakarta damai.

Kapolda DIJ Brigjen Pol Prasta Wahyu Hidayat turut hadir menyaksikan deklarasi pelajar. Dalam kesempatan itu, Prasta menuliskan beberapa kalimat penyemangat bagi pelajar di DIJ agar senantiasa menjaga kedamaian dan menjauhi narkoba. “Yang namanya pemuda kerap diidentikkan dengan aksi tauwuran dan narkoba. Melalui momentum ini ayo wujudkan pemuda Jogja yang bebas kekerasan dan narkoba,” tuturnya.

Dikatakan, aksi kekerasan tanpa sebab (klithih) sering melibatkan pelajar, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Melalui deklarasi tersebut Prasta berharap, para pelajar bersungguh-sungguh bersatu menciptakan suasana Jogjakarta damai.

Di Bantul, tak kurang 500 siswa SMP dan SMA juga membubuhkan tanda tangan di selembar kain putih sepanjang 28 meter. Tanda tangan itu sebagai bentuk komitmen gerakan antinarkoba, antitawuran, dan antikekerasan.

Kasat Samapta Polres Bantul AKP Handiko menyatakan, deklarasi sebagai respons kian banyaknya kalangan pelajar yang terlibat dalam berbagai tindak pidana. Terutama, narkoba dan tawuran. Penyalahgunaan narkoba, misalnya. Handiko menyebut ada 12 kasus yang melibatkan pelajar sepanjang 2016.

Perang melawan narkoba dan aksi tawuran pelajar butuh peran seluruh elemen masyarakat. Mulai orang tua, guru, hingga tokoh masyarakat. Kepolisian tidak akan sanggup bekerja sendirian. “Kuncinya dengan melangkah bersama dan bersinergi,” tuturnya.

Bupati Bantul Suharsono menambahkan, perang melawan narkoba merupakan gagasan Presiden Joko Widodo. Termasuk pula perang melawan pungutan liar di tubuh birokrasi pemerintahan. Karena itu, Suharsono berjanji bakal memberi teladan. “Bagaimana birokrasi bisa bersih bila pemimpinnya masih kotor. Gerakan bersih-bersih ini harus dimulai dari pemimpinnya,” tegasnya.(dwi/bhn/zam/yog/mg1)