SLEMAN – Upacara Sumpah Pemuda di aliran Kali Kuning Dusun Sempu, Wedomartani, Ngemplak Sleman menguak fakta mengejutkan. Aktivitas penambangan liar di kawasan ini cukup memprihatinkan. Meski hanya penambang tradisional, tapi mereka telah menyasar tebing-tebing sungai.

Ketua Kelompok Peduli Kali Kuning Yudi Sunyoto menuturkan penambangan tradisional sudah tidak terkendali. Permasalahan timbul ketika para penambang mulai bergeser ke tebing-tebing sungai. Kegiatan mereka ini turut menggerus kawasan sempadan sungai dengan permukiman warga. “Memang hanya penambangan manual perseorangan tapi sangat intensif. Beberapa tebing mulai digerus. Bahkan rusak. Aliran sungai melebar dan hampir mendekati kawasan permukiman warga,” ujarnya kemarin (28/10).

Sayangnya aksi penambangan ini dilakukan oleh warga asli Wedomartani. Pendekatan dan peringatan telah dilakukan tapi tidak mendapatkan respons. Bahkan warga tetap terus melakukan penambangan setiap harinya.

Saat Radar Jogja mengikuti proses upacara memang terlihat ada truk masuk ke aliran sungai. Bahkan para penambang tetap melanjutkan aktivitasnya meski ada aparat kepolisian yang datang. Yudi menuturkan aktivitas ini terus berlangsung karena tidak ada pelarangan. “Dulu wilayah sempadan kerap kita jadikan untuk arena berkumpul warga dan bermain anak. Tapi semua itu sekarang hilang tergerus penambangan. Bahkan palang dan penghalang agar truk penambang tidak masuk juga tidak berguna,” jelasnya.

Penuturan ini dikuatkan oleh warga Perumahan Puri Domas, Desi Camelia. Awalnya kawasan sempadan memiliki jalan setapak menuju sungai. Lokasi ini kerap dijadikan bermain oleh anak-anak perkampungan. “Jalan setapak ke sungai sampai hilang dan terpotong. Sekarang kalau mau ke sungai harus lompat dan ini bahaya untuk anak-anak. Sehingga warga sekarang tidak memperbolehkan anaknya untuk bermain bebas di kawasan sungai,” keluhnya.

Direktur Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB RI Lilik kurniawan menyayangkan aksi warga ini. Menurutnya, warga harus turut menjaga kelestarian ekosistem sungai. Dia juga meminta pemerintah daerah melakukan pendekatan persuasif kepada para penambang.

Cara yang bisa dilakukan adalah pemberdayaan kawasan sempadan sungai. Yakni mengubah kawasan menjadi destinasi wisata air. Terlebih lagi, potensi dan peluang pemanfaatan Kali Kuning sangat besar. “Permasalahan penambangan terkait dengan keberlangsungan hidup warga. Alasan ekonomi kerap menjadi masalah utama permasalahan ini timbul. Kita kenalkan dengan adanya pemanfaatan positif dan warga terlibat langsung untuk pengelolaannya,” ujarnya.

Diakuinya, kawasan sungai di Sleman kerap terabaikan. Fokus pembangunan hanya pada wilayah perkotaan yang jauh dari sungai. Sementara pembuangan limbah dan pembangunan berdekatan dengan sungai justru disepelekan. “Cukup berkaca pada tragedi banjir di Kota Bandung belum lama ini. Jika berpikir pembangunan jangka pendek seperti itu akibatnya. Tentu kita tidak ingin Jogjakarta terjadi seperti itu,” katanya.

Pemkab Sleman memiliki andil besar mengamankan hulu-hulu sungai. Peran Sleman menurutnya sangat besar karena menaungi kawasan sungai di perkotaan hingga hilir sungai. Ditambah dengan sinergitas dengan masyarakat.

Menurutnya, penataan kawasan aliran sungai bukan hanya tanggung jawab per wilayah. Kali Kuning yang membentang dari Merapi hingga wilayah hilir merupakan tanggung jawab bersama. Dampak di kawasan hulu turut dirasakan warga Kota Jogja dan hilir sungai.

“Sungai adalah investasi yang luar biasa bagi sebuah wilayah. Sinergitas harus dibangun antara pemerintah dan warganya. Jika ada keluhan dari warga, pemerintah harus bertindak. Dis atu sisi, warga juga harus mengawasi dan menjalanakan kebijakan dari pemerintah,” jelasnya. (dwi/din/mg2)