Diskusi Asian Congress for Media and Communication (ACMC), yang diadakan di UMY, Sabtu (29/10). (Foto: Humas UMY For Radar Jogja).
JOGJA – Perubahan tagline Jogja Never Ending Asia menjadi Jogja Istimewa pada 31 Agustus 2012 lalu, dan mulai digalakkan pada awal tahun 2015 dinilaai belum membumi. Itu karena sosialisasi kepada seluruh masyarakat Kota Jogja kurang masif. Apalagi, Humas Pemerintah Kota Jogja sebagai komunikator dan mediator dalam proses sosialisasi antara pemerintah dan masyarakat Kota Jogja terkait perubahan tagline bagi kota pelajar, kota budaya, dan bahkan sebagai Never Ending-nya Asia masih minim.

Padahal, kini sudah masuk era komunikasi digital, pemanfaatan media komunikasi Digital Public Relations (PR) menjadi hal urgent yang dapat dilakukan dalam proses sosialisasi.

“Tagline baru Kota Jogja dibutuhkan proses sosialisasi agar bisa diterima oleh seluruh elemen masyarakat Kota Yogyakarta. Jika pemerintah dapat memanfaatkan digital PR, dalam proses sosialisasi “Jogja Istimewa” sebagai branding baru Kota Yogyakarta akan lebih cepat, tepat, dan efektif tersosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat di Kota Yogyakarta,” kata Frizky Yulianti Nurnisya, M.Si., selaku panelis dalam diskusi panel di Pascasarjana UMY, Sabtu (29/10) dalam acara Asian Congress for Media and Communication (ACMC), yang diadakan sejak Kamis (27/10).

Dengan demikian, lanjut dia, Daerah Istimewa Jogjakarta yang lebih berkarakter, berbudaya, maju, mandiri, dan sejahtera menyongsong peradaban baru dapat dengan mudah terwujud.

Menurut Frizky, perubahan tagline atau branding Jogja tersebut disebabkan semakin ketatnya persaingan pariwisata antar daerah di Indonesia. Akan tetapi perubahan branding tersebut justru banyak mendapat kritikan dari berbagai elemen masyarakat.

“Sebagai pusat pendidikan dan daerah yang sarat dengan seni bahkan menghasilkan seniman internasional, banyak masyarakat yang tidak hanya mengkritik logo tersebut, namun juga ikut sumbang saran untuk mengatasi persoalan logo ini. Hingga akhirnya terbentuklah tim sebelas dari berbagai kalangan untuk mewakili aspirasi seluruh masyarakat,”lanjutnya.

Peran Humas Pemerintah Kota Jogja dalam sosialisasi tagline baru tersebut, Frizky menambahkan, hanya sebagai pelaksana atau implementator saja untuk memperkenalkan adanya branding baru kota Jogja.

“Hal ini tentu sangat disayangkan karena posisi humas dalam sebuah instansi memiliki peranan penting untuk mendengar pendapat dari seluruh stakeholder. Tidak berlebihan jika kemudian humas dianggap bisa memiliki pertimbangan yang lebih matang karena bisa berada diantara kepentingan seluruh stakeholder,” ujarnya. (ama/hes)