IP-Fadli Berkaca Pilpres, HS-HP Berharap Lampaui Pileg
JOGJA – Persaingan merebut simpati warga Kota Jogja dimulai hari ini (28/10). Selama empat bulan kedepan, hingga 11 Februari 2017, pasangan calon (paslon) Wali Kota – Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono (IP) dan Achmad Fadli serta Haryadi Suyuti (HS) dan Heroe Poerwadi (HP) sudah siap dengan materi visi misi dan program kerja masing-masing. Sebagai modal memikat hati masyarakat Kota Jogja.

Hari ini adalah jatah milik IP dan Fadli, pemilik nomor urut 1. Sedangkan HS dan HP mendapat giliran mulai Sabtu (29/10) sebagai hari pertama kampanye. Begitu seterusnya secara selang-seling.

Jenis kampanye hari pertama diserahkan kepada masing-masing pasangan calon dan tim sukses. “Bisa dengan tatap muka atau pertemuan terbatas dan rapat umum,” jelas Ketua KPU Kota Jogja Wawan Budianto.

Bukan tak mungkin pelaksanaan Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Jogja bakal berlangsung ketat. Masing-masing paslon memiliki kekuatan berimbang. Itu berdasarkan perhitungan jumlah kursi partai pengusung kedua pasangan calon di DPRD Kota Jogja.

Pasangan IP dan Fadli mendapatkan sokongan 16 kursi di DPRD Kota Jogja, yaitu 15 kursi PDIP dan satu kursi Nasdem. Pasangan ini juga didukung partai non-parlemen PKB. Sedangkan HS dan HP didukung lebih banyak partai. Golkar lima kursi, PAN lima kursi, Gerindra lima kursi, PKS empat kursi, dan Demokrat satu kursi. Juga mendapat dukungan dari PPP.

Sedangkan jika berdasarkan jumlah suara dalam pemilu legislatif 2014 lalu, pasangan IP dan Fadli total suaranya 85.114. Sementara pesaingnya, memperoleh suara dukungan 107.292, berasal dari Golkar 17.763, PAN 30.952, Gerindra 26.959, PKS 18.587, dan Demokrat 13.031.

Meskipun berdasarkan hasil perolehan suara saat pemilihan legislatif (pileg) tersebut lebih kecil, Danang Rudyatmoko, ketua tim pemenangan IP dan Fadli, mengaku tidak gentar. Dia menegaskan, pilwali berbeda dengan pileg. Pilwali lebih melihat kekuatan figur.

“Pilwali nanti tidak jauh berbeda dengan pemilihan presiden,” ujarnya.

Dikatakan, saat pilpres pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang diusung PDIP, Nasdem, dan PKB mampu menyapu bersih dalam perolehan suara di Kota Jogja, kecuali di Kecamatan Kotagede. “Saya kira warga akan melihat dari figur paslon untuk menentukan pilihannya.‎ Dan itu pernah terjadi pada Pilpres 2014,” ujar ketua DPC PDIP Kota Jogja itu.

Sementara Steering Commite Tim Pemenangan HS dan HP, Muhammad Sofyan menilai, setiap pemilu, baik pileg, pilkada, maupun pilpres memiliki karakteristik berbeda. Hasil akhir tak selalu bisa menjadi patokan. “Dari sisi kefiguran juga beda meskipun ada kemiripan koalisi parpol,” katanya.

Menurutnya, kekuatan pemenangan HS dan HP terdapat pada konsolidasi partai pengusung dan pendukung. Dengan modal enam parpol koalisi akan menjadi kekuatan penting sebagai instrumen dalam menyukseskan paslon.Dari konstelasi tersebut, dia berharap akumulasi suara dari pileg lalu bisa terlampaui saat pilwali nanti. “Tentunya dengan kerja keras semua komponen, mulai dari calon, parpol maupun simpatisan dan masyarakat,” ujarnya. (pra/yog/mg1)