KULONPROGO – Pemkab Kulonprogo menggelar sosialisasi relokasi bagi warga terdampak New Yogyakarta International Airport (NYIA). Acara tersebut digelar di Balai Desa Glagah kemarin.

Bagi warga terdampak yang menginginkan anaknya mengambil kapling dan rumah di lokasi relokasi diprioritaskan KK Pokok atau KK yang terdata dalam database awal terlebih dahulu. “Jika nanti kuota lahan di relokasi ada yang lebih, maka bisa saja untuk KK indung (KK yang menumpang di KK pokok semisal anak, saudara, dll).

Prioritas tetap untuk KK Pokok dahulu, kalau kuota tanah masih maka bisa untuk memfasilitasi KK indung yang berkeinginan dan mempunyai daya beli untuk lahan dan rumah di lokasi relokasi.

‘’Kami juga pertemukan warga dengan calon konsultan pendamping relokasi. Kami juga melakukan validasi siapa saja yang mengajukan relokasi rumah di tanah kas desa,” kata Kabag Pemerintahan Setda Kulonprogo Heriyanto.

Validasi tersebut dilakukan untuk mempermudah pengalokasian lahan yang akan ditempati warga terdampak. ‘’Ada warga yang awalnya minta relokasi beralih minta ganti rugi uang, atau sebaliknya. Maka perlu divalidasi lagi,” kata Heriyanto.

Petugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas (Rekompak) juga menjelaskan tipe rumah yang akan dibangun. Mulai tipe 36, tipe 45, tipe 60 hingga tipe 100.

“Pembangunannya akan dilakukan masyarakat sendiri didampingi konsultan Rekompak yang ditunjuk,” kata Heriyanto.

Spesifikasi tipe rumah bagi KK indung sama dengan KK pokok. Semua disesuaikan daya beli yang bersangkutan. “Selain KK pokok dan KK indung, kami tidak mengakomodir munculnya nama-nama baru,” kata Heriyanto.

Warga yang datang diminta mengisi blanko pernyataan akan mengambil relokasi atau tidak. Hal itu penting untuk mengantispasi komplain di kemudian hari.

“Apakah nama itu betul yang bersangkutan atau nama orang lain. Kalau beda akan kami klarifikasi sehingga data benar-benar valid,” ujar Heriyanto.

Lahan relokasi di Desa Glagah luasnya 5,8 hektare. Sudah termasuk fasilitas umum dan fasilitas sosial. Kapling yang disediakan untuk masing-masing warga 200 meter persegi, dengan harga Rp 860 ribu per meter.

Sarino, warga Pedukuhan Kepek, Desa Glagah mengaku puas dengan sosialiasi tersebut Dia kehilangan semua asetnya (tegal, sawah dan rumah). Uang ganti rugi yang diterimanya cukup untuk mendapat rumah di lokasi relokasi. (tom/iwa/mg2)