BPAD Terus Dorong Tingkatkan Budaya Baca Masyarakat

JOGJA – Meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan perpustakaan serta arsip secara optimal menjadi misi yang dicanangkan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIJ.

Selain itu, instansi yang dikepalai Budi Wibowo ini juga mempunyai visi mengembangkan jaringan perpustakaan dan kearsipan berbasis teknologi informasi. “Kami juga punya misi mewujudkan perpustakaan dan arsip sebagai khazanah budaya daerah. Karena itu kami kembangkan koleksi peradaban timur yang memuat berbagai referensi berbagai daerah sesuai kebhinekaan,” ujar Budi Wibowo menjelaskan kebijakan dan implementasi pengembangan perpustakaan di Hotel Santika Jogja, kemarin (26/10).

Budi mengatakan, pengembangan perpustakaan berjalan beriringan dengan kearsipan. Bahkan saat ini pihaknya tengah mengembangkan sistem informasi kearsipan statis. Di mata alumnus FH UNS ini arsip memegang peranan penting bagi identitas bangsa. Demikian pula bagi daerah.

“Arsip itu menjadi cermin jati diri dan kebanggaan sebuah daerah,” ingatnya dengan nada serius di depan peserta ekspose dan monev perpustakaan penerima bantuan dari sejumlah desa se-DIJ.

Karena itu, arsip harus dikelola secara baik dan benar. Meski secara wilayah, DIJ relatif kecil dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur bukan berarti daerah berstatus istimewa ini tidak menyimpan potensi arsip yang banyak.

“Banyak peristiwa penting dan bersejarah terjadi di Jogja. Mungkin itu tidak ditemui di provinsi-provinsi lain,” kata pria asal Salatiga ini.

Kembali soal pengembangan perpustakaan, Budi mengatakan, ada banyak program dan kegiatan dilakukan BPAD. Di antaranya mulai pengadaan bahan pustaka, pengelolaan bahan pustaka, supervise, pembinaan dan stimulasi perpustakan umum, khusus, sekolah, dan masyarakat.

Perpustakaan masyarakat termasuk perpustakaan desa. Dari 438 desa, saat ini telah ada 75 desa yang dibantu komputer dan dilengkapi sarana internet.

“Belum semua desa bisa dibantu komputer dan terkoneksi internet. Padahal betapa penting dan luar biasanya manfaatnya internet,” katanya.

Pria yang pernah menjabat Sekda Kulonprogo ini mengaku prihatin dengan adanya sejumlah sekolah yang sulit mengakses internet. Misalnya di beberapa sekolah di Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Demikian pula beberapa sekolah di sisi timur Kecamatan Piyungan. “Kami segera turun ke sana bekerja sama dengan Dinas Kominfo DIJ,” ujarnya.

Menurut dia, berkembangnya pengelolaan perpustakaan berpengaruh terhadap meningkatnya budaya minat baca. Masalah itu saat ini menjadi problem mengingat masih rendahnya budaya membaca di masyarakat.

Salah satu cara yang ditempuh Budi adalah mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi. “BPAD juga mendorong terbentuk dan terbinanya gerakan pemasyarakatan minat baca,” lanjutnya.

Di tempat sama, Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Gunungkidul Ali Ridlo mengungkapkan, perpustakaan desa telah merangsang budaya membaca masyarakat. Selain itu juga memberikan dampak peningkatan produk pertanian setelah warga banyak membaca referensi di perpustakaan desa. Contohnya Perpustakan Desa Ngupoyo Pinter di Desa Bendung, Kecamatan Semin.

“Kualitas pertanian warga seperti cabai, terong dan tomat meningkat setelah menemukan informasi lewat internet. Perpustakaan ini menjadi favorit warga berkumpuk dan berbagi pengalaman,” katanya bangga.

Kabid Pengembangan Perpustakaan BPAD DIJ Bambang Budi Sulistya dalam acara itu menyampaikan tujuan diadakan monev bagi perpustakaan penerima bantuan. Terutama perpustakaan desa yang menerima bantuan rak dan koleksi buku pada tahun anggaran (TA) 2015. Monev diadakan dengan cara acak pada 24 desa. (kus/ila/mg1)