BISNIS tak sekadar mencari uang. Lebih dari itu, wirausaha juga harus memperhatikan sekaligus menekankan pentingnya aspek-aspek lain di luar materi. Itulah prinsip yang dipegang teguh Auf, founder brand ayam geprek Mbok Moro.

“Jam 11.00 saya ada janji ketemu dengan orang di outlet yang lain,” ucap Auf membuka pembicaraan dengan Radar Jogja saat ditemui di salah satu outlet ayam geprek Mbok Moro di Jalan Gatak Dusun Durenan, Tamantirto, Kasihan, kemarin (27/10).

Sementara jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.30. Pesan yang disampaikan Auf ini bertujuan agar wawancara dengannya tak sampai melewati pukul 11.00. Ya, Auf sangat menekankan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap disiplin ini juga ditularkan kepada seluruh karyawannya. “Nanti kalau terlambat bisa ditegur karyawan saya nanti,” lanjutnya dengan berkelakar.

Kendati cukup singkat, Auf cukup detail menceritakan perjalanannya selama merintis bisnis kuliner. Ide melahirkan brand ayam geprek Mbok Moro tidak muncul begitu saja. Lahirnya Mbok Moro ini dari pergulatan “spiritual” Auf. Sebelum terjun dalam bisnis kuliner, Auf telah cukup lama berkecimpung dalam usaha online. Dalam kurun waktu 2009 hingga 2012, pria kelahiran 31 tahun lalu ini sukses menekuni usaha kerjasama dengan raksasa mesin pencari Google ini. Setidaknya, beberapa website pribadinya yang didaftarkan Google AdSense mampu menghasilkan uang ratusan juta rupiah per bulannya.

Kendati begitu, bisnis ini ternyata tak membuat batin Auf tenteram. Walaupun pundi-pundi rupiahnya terus menumpuk. Auf merasa usahanya ini tidak memberikan manfaat apapun bagi orang banyak. “Tidak berkah. Akhirnya dunia online ini saya tinggalkan pada 2012,” tuturnya.

Dari titik inilah embrio perjalanan ayam geprek Mbok Moro dimulai. Auf mengaku pernah menjadi orang yang lalai beragama. Kegelisahan batin ini juga menggiring pria kelahiran Kembaran, Tamantirto, Bantul ini rajin belajar agama. Termasuk rajin membaca Alquran dan salat.

Dalam perjalanan spiritualnya ini Auf banyak belajar tentang ayat-ayat Alquran. Beberapa di antaranya tentang ayat yang menyinggung berwirausaha. “Barangsiapa membaca kitab Allah, menegakkan salat, menafkahkan sebagian rezeki maka sesungguhnya dia berharap perniagaan yang tidak merugi,” tutur Auf menyitir salah satu ayat.

Sebagai orang yang terlahir dengan penuh rasa penasaran, Auf ingin membuktikan kebenaran ayat ini. Menurutnya, kebenaran janji Tuhan ini benar adanya. Dalam waktu sekejap, brand ayam gepek Mbok Moro berkembang pesat. Bagaimana tidak, dalam setahun ayam geprek Mbok Moro memiliki tiga outlet. “Berdiri Maret 2013. Sekarang sudah ada empat outlet,” sebutnya.

Menariknya lagi, berdirinya seluruh outlet ini tanpa dengan memanfaatkan modal besar. Auf mengaku tidak mengambil sepeser pun hasil bisnis online-nya. Aset-aset online-nya ditinggalkan begitu saja. Modal pendirian Mbok Moro hanya memanfaatkan sedikit modal dari kocek pribadinya. “Ada tips dan triknya. Salah satunya memutar barang dari suplier,” ungkapnya.

Seiring waktu berjalan, ayam geprek Mbok Moro berkembang pesat. Memiliki 50 lebih karyawan. Omzetnya per bulan juga cukup lumayan. Kendati begitu, Auf tidak serta-merta jemawa. Bagi Auf, membangun usaha tak sekadar untuk mencari uang.

Lebih dari itu, usaha juga dapat dijadikan media untuk membangun budaya. Seperti budaya disiplin, serta tanggung jawab. Juga, sebagai media untuk menularkan virus kebaikan. “Karena bekerja adalah jihad. Bukan sekadar untung rugi,” tegasnya.

Auf menambahkan, sengaja mengambil Mbok Moro sebagai nama produknya. Logonya juga bukan ayam. Melainkan seorang perempuan berjilbab. Itu bertujuan agar Mbok Moro mampu menembus level yang dicapai salah satu produk Amerika Serikat, KFC. “Jualan ayam, tapi logonya bukan ayam,” jelasnya.

Aur berpesan pada generasi muda, tepat di momen Sumpah Pemuda ini, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Mulai dari yang sederhana, seperti kedisiplinan dan rasa tanggung jawab. “Bangunlah manusianya. Bukan sekadar membangun duitnya,” pesannya.

Auf menerapkan hal itu kepada karyawannya. Dia yakin dengan SDM yang bagus bisnis apapun bakal mampu bertahan lama. Walaupun karyawan yang telah mendapat bekal pelatihan berpotensi untuk mandiri. Sebab, prototipe seperti ini mampu mendorong seluruh karyawan mampu berperan maksimal dalam bidangnya masing-masing. Cara ini banyak diterapkan perusahan-perusahaan seperti ini,” ungkapnya.

Menurut Auf, tidak sedikit pemuda di DIJ yang memiliki potensi luar biasa. Hanya, potensi mereka tidak terasah dengan baik. Para pemuda ini lebih enjoy dengan seabrek bekal pengetahuan. Ironisnya, bekal pengetahuan ini tanpa disertai dengan jam terbang serta praktik yang mumpuni. “Kebanyakan motivasi. Tapi minim action sehingga nggak produktif,” ucapnya.

Oleh karena itu, Auf juga sering memberikan ruang praktik bagi karyawannya usai memperoleh materi pelatihan. Agar beragam teori ini tidak menguap begitu saja. “Usai pelatihan, negosiasi langsung, saya minta praktik langsung,” ungkapnya. (zam/ila/mg1)