BERAWAL dari kecintaannya membaca buku, mengantarkan Irwan Bajang, 29, berkenalan dengan banyak penulis di Jogjakarta. Namun, diantara interaksi dan obrolannya dengan para penulis-penulis tersebut, beberapa mengeluhkan sulitnya menerbitkan karya mereka dalam bentuk buku.

Dari situlah alumnus Hubungan Internasional UPN Veteran Jogjakarta itu berinisiatif membuat Indie Book Corner (IBC). Penerbitan indie yang mewadahi banyak penulis muda dalam menerbitkan karyanya.

Hal itu dimulai Bajang sejak 2009 lalu. Saat itu dia melihat, beberapa temannya memiliki karya berupa kumpulan cerpen dan puisi. Namun tidak semua penerbitan mayor mau menerima karya anak muda untuk diterbitkan menjadi buku.

“Mungkin karena namanya belum besar, sehingga belum menjual. Selain itu juga karena karya pemula belum sebagus karya penulis yang sudah expert.

Nah, kami ingin memfasilitasi itu, agar anak muda punya peluang menampilkan gagasannya,” katanya kepada Radar Jogja, Selasa (25/10) lalu.

Pertama-tama yang dicetak kebanyakan buku teman-temannya dari banyak komunitas. Sebab, menurutnya, cikal bakal IBC berasal dari komunitas-komunitas. Selain itu, kumpulan cerpen dan puisi termasuk dalam buku-buku yang jarang diterbitkan di penerbit konvensional atau arus utama.

“Belakangan sudah mulai populer dan buku seperti itu mulai banyak diterbitkan penerbit besar. Dulu kesannya cerpen dan puisi kurang laku, yang laku novel dan buku keilmuan lain,” jelasnya.

Selanjutnya, pada 2011, pria perantauan asal Lombok Timur kelahiran 22 Februari 1987 itu mulai serius menekuni dunia penerbitan.

Dia dan beberapa kawan yang bergabung lalu menyewa kontrakan kecil untuk usahanya itu. Kemudian mulai ada yang bertugas menjadi layouter dan marketing. “Sampai hari ini delapan orang yang in house, sisanya beberapa freelance,” ungkapnya.

Merintis penerbitan indie memang memang butuh keuletan dan ketekunan. Salah satunya untuk memperkenalkan model buku indie ke publik. Bahwa buku indie yang diterbitkannya tidak hanya dicetak asal-asalan. Namun sama dengan produk buku buatan penerbitan mainstream.

Awalnya edukasi ke pembaca dan penulis bahwa jalur indie hampir sama saja dengan jalur utama. Kalau di penerbitan arus utama ada writing, editing, layout, revisi, desain dan lainnya. “Di jalur indie juga sama. Hal itu juga dilakukan. Naskah masuk di-review, layout, diskusikan dengan penulisnya, kemudian terbit. Hanya step-nya saja yang berbeda,” paparnya.

Perbedaan itu ada di saluran distribusi. Jika di industri arus utama melalui toko-toko buku. Maka di jalur indie banyak yang disalurkan melalui komunitas, sekolah atau direct langsung ke konsumen. Kemajuan media sosial sangat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk buatan penerbitan indie. “Kalau dihitung dari 2009 ada sekitar 4.000 judul, dan kebanyakan penulis muda. Sekitar hampir 80 persen penulis pemula, baru usia antara 18-35 tahun,” jelasnya.

Keuntungan lainnya bagi penulis adalah apabila diterbitkan melalui jalur indie maka royalti yang diberikan bisa lebih besar. Sebab jalur distribusi telah banyak dipangkas, serta rabat yang diminta toko buku atau distributor saja tidak ada. “Penulis bisa mendapat sampai 60 persen,” bebernya.

Selain itu, meskipun teknologi sudah berkembang sangat maju, namun dia optimistis, masa depan buku sulit tergusur. Bahkan dengan buku elektronik atau e-book. Sebab menurutnya, dengan buku banyak kegiatan yang melibatkan emosi seorang pembaca. Seperti misalnya aktivitas membeli buku, menyampul sendiri, menata di rak serta memberikan pembatas.

Sedangkan mengenai upaya yang terus dilakukanya agar tetap eksis dan berkembang, dia mengupayakan selalu menjalin kedekatan dengan penulis dan pembaca. Sedangkan untuk melawan pembajakan, dia berupaya membikin produk dengan spesial. Seperti ketika belanja lewat website, dia akan memberikan entertainment lain misalnya blok note, stiker, pin dan sebagainya. Selanjutnya, dia juga berkeinginan membuat beberapa kelas-kelas kreatif yang lebih komprehensif. Misalnya kelas reguler penulisan, fotografi, design grafis yang tidak sehari dua hari tapi beberapa hari. Dengan konsep kemah penulisan workshop yang panjang. Sehingga peserta bisa belajar bersama dan menghasilkan goal yang jelas. (riz/ila/mg1)