JOGJA – Sikap politik kaum pemuda di tanah air ternyata sangat memprihatinkan. Betapa tidak, sebagian besar pemuda Indonesia ternyata sudah tidak lagi tertarik mengikuti hingar bingar perpolitikan di tanah air. Hal ini terjadi karena para pemuda banyak mendapatkan informasi tentang sisi negatif dari sosok politisi dibandingkan positifnya terutama politisi muda yang ada di tanah air.

“Mereka menilai politisi itu buruk karena para politisi lebih mengedepankan kekuasaan, banyak manipulasi, sarang korupsi, kotor, politik itu kejam, banyak konspirasi, mengendepankan kepentingan, politik itu rusah dan menghalalkan segala cara,” kata Direktur Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi UAD Jogja, Hadi Suyono kepada Radar Jogja Online, Jumat (28/10).

Baca juga: radarjogja.co.id/waduh-7324-persen-pemuda-tak-peduli-pilkada
Fenomena ini terungkap dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi UAD Jogja dengan jumlah responden sebanyak sebanyak 482 orang.

Dari hasil survey tersebut juga terungkap bahwa sebanyak 84,65 persen pemuda yang menjadi responden mengaku tidak tertarik terjun ke politik. Hanya, 15,35 persen saja yang ingin bergabung dengan partai politik. Ironisnya, mereka lebih banyakmemilih bergabung dengan organisasi yang tidak dapat membuat kebijakan.

“Untuk menyaluraskan aspirasi, mereka lebih memilih menggunakan aktifitas sosial kemasyarakatan, organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, dan LSM,” terang Hadi.

Selain pengaruh informasi, para pemudi tidak peduli dengan politik karena merekan menganggap tidak ada sosok politisi yang bisa dijadikan sebagai teladan. Apalagi, kondisi ini diperparah dengan adanya sejumlah politisi muda yang terseret dalam pusaran korupsi seperti Anas Urbaningrum, Angelana Sondak, Nazarudin, dan lain sebagainya.

“Untuk mengatasi masalah ini agar pemuda mau peduli dengan politik, politisi dan partai politik harus bisa memberikan teladan yang baik. Partai harus bisa melakukan kaderisasi yang baik kepada para kader dan simpatisannya, tidak korupsi, dan tentu media massa juga tidak hanya memberitakan sisi negatif para politisi tapi juga ikut memberitakan sisi positif para politisi tanah air,” pinta Hadi. (ama/hes)