MUNGKID – Lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren (ponpes) memiliki peran dalam proses Islamisasi masyarakat. Indonesia dulu warganya tidak beragama Islam, namun dengan kehadiran ponpes kini mayoritas beragama Islam.

“Ponpes menanamkan nilai Islam dengan begitu baik dan secara damai. Hal ini juga tidak lepas dari peran para kiai terdahulu,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat meresmikan Masjid Fajar Falah Darurrochman, di Kompleks Ponpes Asrama Pelajar Islam (API) Asri Tegalrejo, kemarin (26/10).

Lukman mengatakan, sejak ratusan tahun lalu Indonesia dikenal sebagai bangsa yang sangat agamis. Bangsa yang berpegang dengan nilai agama, meski di tengah keberagamaan. Terlepas apapun etnis dan golongan, dari Aceh sampai Papua, masyarakat sangat memegangi nilai-nilai agama. Hal ini tidak ditemui di bangsa lain. “Bahkan sejak di rahim, aktivitas keagamaan sudah berlangsung,” jelasnya.

Menurutnya, keberagamaan itulah ciri Indonesia. Bahasa yang digunakan masyarakat beragam, dan satu wilayah bisa memiliki beberapa bahasa. Hal ini yang perlu dipahami bahwa bagaimana Islam dan ke-Indonesiannya menyatu dalam kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

“Jadi menerapkan nilai Islam berdasarkan ke-Indonesiaan. Hal itu juga sebaliknya. Islam dan Indonesia merupakan satu kesatuan. Ini yang harus dipahami di ponpes sebagai lembaga pendidikan,” kata mantan anggota DPR RI yang juga alumni Ponpes Gontor, Ponorogo, Jatim, ini.

Meski saat acara sempat diguyur hujan deras, kedatangan menteri agama ini disambut antusias ribuan santri di ponpes itu. Peresmian masjid ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemukulan bedug.

Pengasuh Ponpes API Asri Tegalrejo KH Ahmad Izzudin mengatakan, ponpes ini awal berdiri pada 2007 silam. Kini santrinya mencapai sekitar 3.000 orang. Adapun syukuran peletakan batu pertama masjid pada 26 Oktober 2013.

“Saat ini tepat tiga tahun masjid dibangun,” katanya. Pembangunan masjid ini menelan dana sekitar Rp 5 miliar dan mampu menampung sekitar 2.000 jamaah. (ady/laz/mg2)