Antisipasi Bencana di Musim Penghujan

JOGJA – Ancaman bencana musim hujan di DIJ tergolong tinggi. Bahkan, sebaran potensi bencana tersebut merata di semua kabupaten dan kota. Sebagai langkah persiapan, Dinas Sosial (Dinsos) DIJ memastikan stok kebutuhan pokok bagi warga korban bencana aman.

Kepala Dinsos DIJ Untung Sukaryadi menegaskan, semua kebutuhan logistik tak ada kendala. Baik permakanan pokok untuk dewasa maupun makanan bayi belum kedaluwarsa. “Kami juga bida berkoodinasi dengan Bulog DIJ apabila stok yang ada tidak mencukupi,” ujar Untung, kemarin (26/10).

Dia mengungkapkan, selain persediaan di dinsos dan Bulog DIJ, masing-masing kabupaten dan kota juga memiliki stok logistik. “Semua memiliki stok. Harapannya, semua stok tidak keluar gudang,” jelasnya.

Soal stok tersebut, lanjut Untung, bisa dialokasikan melalui dana tanggap darurat. Tinggal, nanti pihaknya menyesuaikan besarannya dengan kebutuhan di lapangan saat terjadi bencana. Apalagi, saat ini pihaknya juga masih memiliki 50 ton beras yang dititipkan di gudang Bulog Divre DIJ.

“Nilainya tidak ada batasan, tergantung pada besar kecilnya (kebutuhan),” katanya.

Dia mengatakan, logistik di gudang penyimpanan milik Dinsos DIJ hanya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga tiga hari. “Sesuai dengan analisis rawan bencana, stok kami masih cukup. Dua hingga tiga hari kami masih bisa terus memasok,” katanya.

Selain menjamin keamanan logistik, menurut Untung, Dinsos DIJ juga menyiagakan 1.050 taruna siaga bencana (tagana).

Mereka tersebar di lima kabupaten/kota. “Untuk desa yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, kami tempatkan tiga sampai empat tagana yang akan memberikan pelatihan kesiapsiagaan kepada masyarakat setempat,” jelasnya.

Koordinator Pos Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Joko Budiono mengatakan, di awal musim hujan di DIJ curah hujan telah mencapai lebih dari 50 milimeter per dasarian.

Pada musim hujan tahun ini, masih disertai dengan kemunculan fenomena La Nina dengan kategori sedang. “Akan berpengaruh pada makin tingginya curah hujan. Meski, pengaruhnya tidak terlalu kuat,” kata Joko.

Sementara itu, berdasarkan analisis kondisi atmosfer di wilayah DIJ terpantau indikasi munculnya cuaca ekstrem. Ini ditandai dengan hujan lebat disertai kilat dan angin kencang mencapai 8 kilometer sampai 25 kilometer per jam. Dia mengimbau masyarakat waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang ditimbulkan, seperti banjir, tanah longsor, genangan, tanah licin, dan pohon tumbang.

Ombak Tinggi Jadi Celah Illegal Fishing
Sementara itu, ombak tinggi di perairan DIJ dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk mengambil ikan secara ilegal. Periode Oktober, aksi illegal fishing cukup marak di perairan DIJ. Kawasan yang kerap dijadikan tempat untuk mengambil ikan secara ilegal yakni di Pantai Sanden dan Parangkusumo.

Direktur Ditpolair Kombes Pol Endang Karnadi memaparkan selama 2015 pihaknya berhasil mengamankan tiga kapal.

Sedangkan di 2016 ini mengamankan dua kapal yang terbukti melakukan pencurian ikan di perairan DIJ.

“Kasusnya sudah kami limpahkan ke kejaksaan,” jelas Endang kepada Radar Jogja, kemarin (26/10).

Menurutnya kondisi perairan di DIJ menjadi tempat tepat untuk mencari ikan. Ombak yang besar ternyata memiliki potensi ikan yang cukup banyak. “Sejauh ini yang kami amankan berasal dari Cilacap, Jawa Tengah dan Pacitan, Jawa Timur,” jelasnya.

Dia menjelaskan, keberadaan kapal nelayan berbagai ukuran ini terbilang nekat mencuri ikan di tengah cuaca buruk. Justru, kondisi pantai yang tidak bersahabat ini dijadikan kesempatan untuk mencuri ikan.

Apalagi, sambungnya, dari enam kapal patroli yang dimiliki Polair Polda DIJ semuanya bertipe C2 yang sebenarnya tidak layak berpatroli di tengah gelombang yang cukup besar. “Kami sudah melapor ke pusat untuk meminta kapal bertipe B yang terbahan besi, namun belum terealisasi,” jelasnya.

Kepala Patroli Laut Polair Polda DIJ AKBP Bayu Herlambang menjelaskan, pihaknya secara rutin melakukan patroli laut di berbagai pantai yang ada di DIJ. Berbeda dengan pengaman di darat, pengamanan di laut dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

“Kerawanannya beda, biasanya saat ombak besar ini, justru para illegal fishing mencari celah,” jelasnya. (eri/bhn/ila/mg1)