SLEMAN – Alih fungsi lahan pertanian untuk area permukiman penduduk tak bisa dihindarkan. Terlebih, sawah atau ladang yang disulap menjadi rumah pribadi. Bahkan, tak sedikit lahan potensial dibangun kawasan perumahan.

Kendati demikian, Pemkab Sleman membatasi alih fungsi lahan pertanian hanya 100 hektare per tahun. Hal itu guna menjaga kawasan sabuk hijau sebagai lumbung pangan.

Salah satu upaya yang ditempuh dengan memasang papan pengumuman di sejumlah titik area pertanian yang harus dijaga keasriannya. Terutama wilayah perkotaan yang mengalami dinamika tinggi. Di situlah papan informasi dipasang. Di antaranya, Sinduharjo dan Minomartani (Ngaglik), Balecatur dan Banyuraden (Gamping), Sinduadi (Mlati) dan Wedomartani (Ngemplak).

Upaya tersebut sejalan dengan amanat Perda No. 12 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sleman 2011-2031.

“Penyusutan lahan agraris itu pasti, tapi kami tahan dengan upaya ini,” ujar Plt Kepala Kantor Pengendalian Pertanahan Daerah (KPPD) Sleman Hendri Setiawan kemarin (26/10).

Hendri mengklaim, pemasangan papan informasi cukup efektif mencegah alih fungsi lahan. Terbukti, pengendalian lahan di kawasan yang terpasang papan tersebut lebih mudah. Kendati demikian, diakuinya hal itu tak lepas makin tingginya kesadaran masyarakat, sehingga tergerak untuk tidak mengubah sawah menjadi rumah. Hendri menyebut, sejak awal 2016 alih fungsi lahan di Sleman sudah mencapai 80 hektare hingga Oktober.

Hendri tak menampik kian menyempitnya lahan hijau seiring dengan pesatnya kebutuhan masyarakat akan rumah tinggal. Namun, jika tak dikendalikan, Hendri khawatir akan berdampak menurunnya produktivitas pangan.

“Selama masih ada lahan hijau, kebutuhan pangan bisa tercukupi. Tapi jika terus tergerus tentu akan mempengaruhi kebutuhan pangan ke depannya. Pembatasan ini juga terkait menjaga ekosistem alam perkotaan di Sleman,” kata Hendri saat sosialisasi pengendalian pertanahan di Balai Desa Sinduadi, Sleman kemarin (26/10).

Kepala Desa Sinduadi Senen Haryanto berharap, pemerintah daerah bisa menjaga atmosfir kelestarian lahan hijau dalam jangka panjang. “Alih fungsi lahan merugikan sektor pangan. Hasil produksi lumbung mulai berkurang, sehingga pasokan pangan tidak optimal,” ungkapnya.

Dikatakan, dari total 18 dusun di Sinduadi kini hanya delapan yang masih bertahan dengan kawasan agraris. Karena itu, Senen mempertahankan dua dusun, Ngaglik dan Gedongan sebagai kawasan penyangga pangan. (dwi/yog/mg2)