Dilihat dari Hasil Perolehan Suara Pileg 2014

KULONPROGO – Peta kekuatan politik pemilihan bupati dan wakil bupati (Pilbub) Kulonprogo 2017 jika dilihat dari hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014, pasangan Hasto Wardoyo-Sutedjo bisa menang telak. Sebab, koalisi parpol pengusungnya lebih banyak. Namun, hasil perolehan Pileg 2014 itu bisa jadi berbalik, asalkan pasangan Zuhadmono Aszari-Iriani Pramastuti mampu merebut dan mendulang suara di kantong-kantong suara partai pengusung lawannya.

Berdasarkan Sertifikat Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 yang dikeluarkan KPU Kabupaten Kulonprogo dengan Model DB-1. Pada Pileg 2014 lalu diikuti ada 12 parpol. Antara lain, Partai Nasdem, PKB, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PAN, PPP, Partai Hanura, PBB, PKPI, PDIP, PKS, dan Golkar.

Sementara pada Pilbup 2017, paslon Hasto Wardoyo-Sutedjo diusung tujuh partai koalisi, yakni PDIP, PAN, Golkar, PKS, Nasdem, Hanura, dan PPP yang terpaksa harus menanggalkan atribut partai karena tidak lolos dalam pemberkasan. Sedangkan paslon Zuhadmono Azhari-Iriani Pramastuti hanya didukung koalisi partai PKB, Partai Gerindra, dan Partai Demokrat.

Jika melihat komposisi partainya, paslon Hasto-Tedjo lebih unggul dibandingkan Zuhadmono-Iriani. Meski begitu, Ketua DPD Partai Gerindra DIJ Birgjend Purn Nuryanto mengatakan, gabungan koalisi partai dalam Pilbub Kulonprogo ini sama dengan Pilbub Bantul 2015.

“Dulu pak Suharsono di Bantul juga hanya diusung tiga partai politik (Gerindra, PKB, dan PKS), namun bisa mengalahkan petahana. Kuncinya PAC harus solid, tekad kuat, dan semangat menang,” katanya saat memberikan pendidikan politik bagi kader partai Gerindra Kulonprogo.

Pria yang akrab disapa Romo Nur itu menegaskan, tidak perlu takut melawan petahana. Itu jika melihat Pilbup Bantul tahun lalu. Dulu itu, survei pasangan Suharsono-Abdul Halim Muslih di Bantul hanya 4,5 persen. Namun akhirnya bisa menang. “Zuhad-Iriani juga harus begitu, saya yakin di Kulonprogo juga bisa,” tegasnya.

Sementara itu, jika dilihat dari total perolehan suara koalisi parpol pengusung paslon Hasto-Tedjo pada Pileg 2014 di daerah pemilihan (Dapil) I (Temon, Wates, Panjatan) diperoleh angka 47.981 suara. Sedangkan total perolehan suara Pileg 2014 Dapil I untuk partai koalisi pendukung pasangan Zuhad-Iriani diperoleh angka 18.990 suara. Sehingga untuk persaingan di Kecamatan Temon, Wates, dan Panjatan, jika didasarkan dari hasil perolehan suara Pileg 2014 dimenangkan paslon Hasto-Tedjo dengan selisih mencapai 28.991 suara.

Begitu juga di Dapil II (Pengasih, Kokap) suara koalisi parpol pengusung paslon Hasto-Tedjo totalnya mencapai 32.666 suara. Sedangkan suara kolalisi parpol pengusung paslon Zuhadmono-Iriani totalnya mencapai 18.098 suara. Sehingga persaingan di Kecamatan Pengasih dan Kokap juga dimenangkan paslon Hasto-Tedjo dengan selisih 14.568 suara.

Sementara di Dapil III (Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang) untuk pasangan Hasto-Tedjo berhasil mendulang 37.911 suara.

Untuk partai koalisi pendukung pasangan Zuhadmono-Iriani diperoleh angka 12.639 suara. Sehingga persaingan di Kecamatan Girimulyo, Samigaluh, dan Kalibawang, juga dimenangkan pasangan Hasto-Tedjo dengan selisih 25.272 suara.

Sementara di Dapil IV (Sentolo, Nanggulan) suara koalisi parpol pengusung paslon Hasto-Tedjo totalnya mencapai 29.300.

Untuk partai koalisi pendukung pasangan Zuhadmono-Iriani memperoleh angka 15.531 suara. Sehingga persaingan di Kecamatan Sentolo dan Nanggulan juga ada selisih 13.769 untuk kemenangan Hasto-Tedjo.

Sementara di Dapil V (Galur, Lendah) pasangan Hasto-Tedjo berhasil mendulang 33.051 suara. Untuk partai koalisi pendukung pasangan Zuhadmono-Iriani diperoleh angka 10.709 suara. Untuk persaingan di Kecamatan Galur dan Lendah juga ada selisih 22.342 suara.

Bagi Paslon Hasto-Tedjo, gabungan koalisi partai yang besar tentu cukup menguntungkan, karena dengan hanya merujuk suara konstituen atau minimal meraih suara saat pileg, maka mereka bisa memenangkan pertarungan.

Mantan Bupati Kulonprogo Toyo Santoso Dipo menyatakan, dalam pilbup tak sekadar mengandalkan peran partai saja. Sebab, masyarakat dalam memilih calon bupati dan wakil bupati juga melihat figure calon yang maju.

Dijelaskan, saat pileg memilih partai dan kader partai, kalau pilbub lebih cenderung berpikir siapa calon yang tepat, bukan siapa partainya. Sehingga tidak jarang paslon yang diusung partai yang sedikit justru bisa menang saat melawan paslon yang diusung banyak partai.

“Beda dengan saat pileg, semua mesin partai berjalan. Tapi, saat pilbup figure yang maju juga berpengaruh,” ujarnya. (tom/ila/mg1)