SLEMAN – Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mendorong pengrajin batik beralih ke pewarna alami. Imbauan itu tak lain demi menjaga kualitas dengan menghasilkan produk yang ramah lingkungan.

Menurut Muslimatun, pemanfaatan bahan pewarna alami sangat efektif bagi industri batik. Terlebih, ketersediaan bahan baku pewarna alami cukup melimpah di Sleman.

Pengrajin tinggal belajar dan mengolah bahan baku pewarna alami untuk membatik. “Prosesnya memang tidak semudah menggunakan pewarna sintetis. Tapi hal ini perlu dilakukan demi menjaga lingkungan yang tetap bersih dan sehat,” tuturnya di sela Lomba Batik Pewarana Alami 2016 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (25/6) malam.

Para pengrajin tak perlu mengolah sendiri bahan baku pewarna alami batik. Saat ini pemkab bekerjasama dengan LPPM UGM dalam budidaya tanaman penghasil warna alami batik, sekaligus pengolahannya.

Sifat dari pewarna alam berbeda dengan pewarna sintetis. Salah satunya dari segi warna yang tidak setajam pewarna sintetis. Sehingga diperlukan langkah mendalam untuk menghasilkan satu warna yang pas. “Tapi seiring waktu saya percaya penelitian bisa memecahkan masalah ini. Keunggulan dari pewarna alam karena mampu mencirikan batik Sleman. Menyatu dengan sisi desain yang kuat akan flora, fauna dan geografis Sleman,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu Muslimatun menyerahkan penghargaan kepada tiga juara lomba batik dengan pewarna alami. Yakni, Sunartinah Wisnu dari Depok sebagai juara 1, Utoyo (Selomartani, Kalasan) juara 2, dan Nuriningsih Hidayat (Berbah) juara 3. Karya peserta lomba juga diperagakan oleh diajeng Sleman dan dipamerkan bagi pengunjung.

Pemkab Sleman melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) terus mendorong para pengrajin batik agar beralih menggunakan pewarna alami. Selain gencar sosialisasi dan kampanye batik ramah lingkungan, pemkab kerap menggelar pelatihan bagi pelaku usaha kecil mikro (UKM) batik. Juga menggelar beragam lomba terkait batik pewarna alam.

Kepala Disperindagkop Pustopo mengatakan, uji coba tanaman penghasil warna alam difokuskan untuk indigofera. Atau penghasil warna biru. Budidayanya dilakukan di Desa Sendangsari, Minggir.

“Ada juga pengembangan Jalawe dan Kayu Tinggi di Kecamatan Pakem. Rencananya beroperasi secara optimal pada Desember mendatang. Akan kami kembangkan pewarna alami berwujud bubuk,” ujarnya.

Ketua Dekranasda Sleman Kustini Sri Purnomo berharap dukungan dari pemerintah daerah terus mengalir dalam upaya pemberdayaan industri batik.

“Dengan adanya workhsop mampu menambah ilmu tentang batik pewarna alam. Prospek kedepan pasti sangat bagus. Dapat menambah jati diri batik Sleman dengan adanya warna alami,” ujarnya. (dwi/yog/mg2)