SLEMAN – Peredaran minuman keras (miras) beralkohol ibarat fenomena gunung es. Perang terhadap miras terus digencarkan aparat pemerintah daerah. Namun, peredaran minuman haram seolah tiada hentinya. Ironisnya, para pengedar justru didominasi wajah-wajah lama. Biasanya, miras dijajakan di warung-warung kelontong. Kini, banyak ditemukan di warung-warung makan atau restoran.

Ratusan botol miras berbagai merek disita Satpol PP Sleman sejak Senin (24/10). Kasi Penegakan Peraturan Daerah Rusdi Rais menegaskan, miras tak boleh di jual di sembarang tempat. Bahkan, pub atau bar tetap harus mengantongi izin penjualan miras. Tak terkecuali kios di bandara atau hotel berbintang. “Sebagian besar yang terjaring razia karena tak punya izin. Ada juga restoran jualan miras. Ini jelas melanggar perda,” ujarnya di sela razia Vila dan Warung Sawah Gondang Legi di Ngaglik kemarin (26/10).

Restoran ini menyediakan bir botol kecil. Bir termasuk miras golongan A dengan kadar alkohol di bawah 5 persen. Aparat mendapati sedikitnya 20 botol bir. Ada juga miras golongan B berkadar alkohol 7 persen.

Pengelola warung dan vila Yoyok Prasetyo Nugroho beralasan miras adalah pesanan tamu vila. Dia berdalih, bir tak dijual bebas. Hanya bagi tamu yang memang ingin memesan minuman beralkohol.

“Kebetulan beberapa waktu lalu ada tamu bule. Jadi pesan minumannya itu, sebagai bentuk pelayanan tentu harus menyediakan. Tapi tidak kita jual bebas untuk pengunjung warung,” kilahnya.

Pada hari sebelumnya, Selasa (25/10), razia menyasar Kecamatan Cangkringan dan Ngemplak. Dikedua tempat ini, Satpol PP menyita 68 botol miras dan belasan botol ciu.

Rusdi menyesalkan masih banyaknya peredaran miras oplosan. Berkaca pada kasus selama ini, banyak korban miras oplosan mengalami cacat tubuh hingga tewas karena menenggak ciu atau lapen.

“Sudah banyak contoh kasusnya, jangan sampai terulang lagi,” ingatnya.

Pada Senin (24/10), aparat juga mendapati miras di After Nine Grill and Chill, Jalan Kaliurang KM 5,3 dan Esco Restaurant di Demangan Baru, Depok. Razia ini sempat diwarnai ketegangan saat Satpol PP menyita 25 botol bir di Esco Restaurant. Sang pemilik Yose Agdeta Gunarsa berdalih miras tersebut tidak dijual. Dia berdalih, puluhan botol miras berukuran besar dan kecil itu hanya untuk konsumsi pribadi.

“Saya taruh di sini karena kulkas di rumah tidak muat untuk menyimpan,” kelitnya.

Satpol PP tetap menyita puluhan botol miras ini. Esco Restaurant bukan hanya kali ini terjaring razia miras. Beberapa bulan lalu, tempat ini juga terjaring razia. Jumlah botol yang disita jauh lebih banyak dengan beragam merek miras.

Rusdi menegaskan, distribusi dan penjualan miras diatur dalam Perda Sleman No 8 Tahun 2007 Pelarangan Pengedaran, Penjualan, dan Penggunaan Minuman Beralkohol. Tepatnya di pasal 5, ayat 1, junto pasal 30 Ayat 1.

Toko, warung kelontong, minimarket, hingga supermarket dilarang menjual miras. Mirasn hanya boleh dijual di hotel berbintang 3 ke atas. “Juga hanya boleh di pub, kafe, bar, dan diskotik yang menyatu dengan hotel maupun tidak. Tapi untuk dikonsumsi di tempat. penjual tetap harus berizin,” tegasnya. (dwi/yog/mg2)