GUNUNGKIDUL-Ternyata, dari seluruh kabupaten yang ada di Indonesia, baru delapan yang bebas dari perilaku buang air besar sembarangan (BABS). Pemerintah pusat menargetkan pada 2019 perilaku hidup tidak sehat tersebut bisa diberantas.

Demikian disampaikan Menkes Nila Djuwita Farid Moeloek di Nglanggeran, Patuk, kemarin. Dia dating menghadiri deklarasi stop BABS.

Masih banyak warga masyarakat yang belum sadar pola hidup sehat. “Kita harus mengubah mindset mereka,” kata Nila.

Mengubah perilaku BABS bisa dilakukan oleh masing-masing individu. Menyadarkan warga agar BAB dengan cara yang benar.

Dia mencontohkan di Sumatra Barat. Dahulu masyarakat banyak yang BAB di kolam. Wali kota bersama bupati setempat mengubah mindset masyarakat untuk menggunakan toilet leher angsa di setiap rumah.

Kemenkes pun sudah berupaya melakukan pengurangan BABS. Meski, perlu dukungan lintas sektoral seperti Kementerian Pekerjaan Umum.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Imran Agus Nurali mengatakan pemerintah sendang menerapkan Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

“Sudah ada kebijakan, setiap tahun melalui puskesmas, mampu mengentaskan perilaku BABS di setiap desa,” kata Imran.

Delapan kabupaten yang bebas BABS, Pacitan, Magetan, Madiun, Ngawi, Grobogan, Kupang, Wajo, dan Kota Waringin Barat (Kobar). Indonesia ditargetkan bebas BABS pada 2019. Pemerintah menerapkan dua metode, yakni jamban permanen dan semi-permanen.

“Jamban semi-permanen mirip cemplung tetapi ditutup. Selain itu diupayakan agar tidak mengotori air tanah,” ujarnya. (gun/iwa/mg2)