Wajan berukuran besar akhirnya dipindah ke Museum Tosan Aji Purworejo

Mengira hanya sekedar besi tak bernilai, pekerja bangunan nyaris menjualnya ke tukang loak senilai Rp 1.000.000,-. Niatan itu pun gagal, karena takut berurusan dengan polisi.
Budi Agung, Purworejo
Selalu ada cerita dibalik sebuah temuan. Demikian pula dengan wajan berukuran raksasa yang ditemukan pekerja proyek pembanguann Depo Arsip Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Purworejo, Selasa (25/10). Benda itu dikira hanya besi biasa yang masuk barang bekas dan memiliki nilai rupiah, walaupun tidak banyak.

Adalah Siswanto dan Marno, dua pekerja yang pertama kali alat kerjanya terantuk benda keras. Dibersihkan lebih jauh ternyata, benda itu memiliki lingkar cukup lebar. Tiga pekerja lain masing-masing Lukas, Irul dan Udin turut membantu melakukan penggalian septiktank yang baru mendapat kedalaman sekitar 1 meter tersebut.

Berkali-kali mendaratkan alat di benda tersebut, mereka meyakini jika itu adalah besi yang sudah mulai berkarat. Lukas yang memiliki kenalan seorang tukang loak mencoba berkomunikasi jika dirinya dan lima temannya memiliki besi besar.

“Kebetulan saya yang punya kontak tukang loak itu. Sudah mendatangi lokasi dan disepakati harganya Rp 1.000.000. Tapi dia minta besi itu diangkat dan rencananya hari ini (kemarin,red) akan dibawa,” kata Lukas saat membantu pemindahan wajan berukuran besar itu ke Museum Tosan Aji Purworejo, kemarin (26/10).

Namun segera beredarnya temuan wajan berukuran besar itu mendapat perhatian banyak pihak. Sehingga mengundang pihak terkait untuk melakukan pengecekan ke lokasi dan melarang penjualan ke pihak lain.

“Tahu dilarang dijual ya kami ikut saja, kami takut kalau sampai berurusan dengan polisi. Terus terang, awalnya kami tidak tahu kalau benda itu masuk benda yang memiliki sejarah,” tambahnya.

Adanya temuan benda itu ditindaklanjuti Pengelola Museum Tosan Aji dan dilaporkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah untuk dilakukan pengecekan dan pantuan langsung di lapangan. Memiliki diameter 1,75 meter dan ketebalan 3 sentimeter serta berat diperkirakan mencapai 500 kg, wajan itu dipindahkan ke Museum Tosan Aji untuk pengamanan dan penyelamatan.

“Wajan ini tidak lengkap dan hanya bagian bawah saja yang ada. Ada juga temuan penyerta yang ditemukan di dekat wajan yakni tiga besi kecil dengan perincian dua memanjang dan satu lingkaran seperti tempat meletakkan minyak,” ujar Junawan, Seksi Penyelamatan BPBC Jawa Tengah.

Ketiga benda ditemukan pertama kali di atas wajan. Dan diperkirakan tidak ada benda lain lagi yang memiliki hubungan dengan temuan itu. Hal itu didasarkan pada lokasi tertanamnya wajan dimana tidak terdapat tungku api seperti temuan di Kutoarjo beberapa waktu lalu.

“Kalau disamakan, ini seperti temuan wajan di batang. Jadi wajan hanya tertanam saja di dalam tanah tanpa ada temuan pendukung,” tambah Junawan yang datang didampingi Seksi Pengamanan Harus Al Rosyid.

Sebagai langkah penelitian, pihaknya juga membawa patahan wajan dari lokasi yang akan dilakukan penelitian untuk mengetahui resido yang dikandung dalam wajan. Terkait usia wajan, Junawan mengaku jika pihaknya secara absolut tidak bisa menyatakan, namun untuk usia secara relatif hal itu bisa diketahui.

“Kita akan membandingkan dengan temuan-temuan yang sudah ada,” tambahnya.

Pantauan Radar Jogja, proses evakuasi wajan cukup memakan waktu dan membuat arus lalulintas di depan Depo Arsip Arpusda Purworejo tersendat. Berhasil diangkat, wajan selanjutnya dimasukkan ke truk miliki Dinas Pekerjaan Umum untuk dibawa ke Museum Tosan Aji yang berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi.

Wajan selannjutnya ditempatkan di sebelah barat wajan raksasa yang telah ada di Museum Tosan Aji. Ditilik dari dasar wajan, sangat mungkin besar wajan yang ditemukan terakhir lebih besar jika dalam kondisi utuh. (udi/ong)