Janjikan Kampanye Santun dan Berbudaya

JOGJA – Masjid Noor Pakuningratan menjadi jujukan dua pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jogja usai pengundian nomor urut di KPU Kota Jogja, kemarin (25/10). Dengan berjalan kaki, kedua paslon melaksanakan salat Duhur di sana.

Sayangnya, kedua paslon dan timnya tidak melaksanakan salat dalam satu jamaah.

Pasangan Imam Priyono (IP) dan Achmad Fadli melaksanakan salat berjamaah terlebih dahulu. Setelah itu, giliran pasangan Haryadi Suyuti (HS) dan Heroe Poerwadi (HP) beserta timnya yang giliran melaksanakan salat. HS saat itu yang menjadi imam.

Tidak ada komunikasi antardua paslon, baik saat berangkat dari KPU Kota Jogja maupun saat bersama di masjid hingga pulang.

Kondisi itu kontras dengan situasi di KPU Kota Jogja, kedua paslon masih saling melempar senyum dan naik bersamaan dalam satu podium. Beberapa gurauan masih sempat dilayangkan oleh kedua paslon, termasuk ketika menanggapi candaan pembawa acara pengundian nomor urut kemarin, Bambang Gundul.

Dalam pengundian nomor urut kemarin, akhirnya pasangan IP dan Fadli mendapat nomor urut satu. Sedangkan pasangan HS dan HP mendapat nomor urut dua. Kedua paslon pun sudah siap menjelaskan arti filosofis nomor urut mereka.

“Masa kampanye nanti dimulai pada 28 Oktober, tepat saat Hari Sumpah Pemuda sebagai sumpah janji untuk persatuan,” ujar IP ketika dimintai komentarnya.

Selama masa kampanye nanti, IP mengatakan, akan mengedepankan Keistimewaan DIJ. Di antaranya dengan melakukan kampanye berbudaya. “Tidak akan ada kampanye dengan sepeda motor yang menggangu kenyamanan warga, nanti saya yang akan menindak langsung,” tegasnya.

Terpisah, HS memaknai nomor urut dua yang didapatnya dengan lebih religius. Menurut dia, dua memiliki arti dua kalimat syahadat. Juga bentuk kesempurnaan dan keseimbangan, sesuai dengan Allah yang menciptakan siang dan malam supaya hambanya dapat terus bertawakal.

“Sangat bersyukur mendapat nomor dua, yang akan menjadi modal mewujudkan kampanye yang santun,” tuturnya.

Kampanye santun yang dimaksudnya yaitu dengan banyak bertemu dengan masyarakat dan mendengarkan aspirasi mereka.

Menurut dia kontestasi Pilwali merupakan hal yang biasa, untuk itu pihaknya juga akan menghadapi dengan biasa. “Tidak ada pengerahan massa yang malah merugikan masyarakat,” lanjutnya.

Harapan kedua paslon tersebut juga diwujudkan dengan deklarasi pilwali yang berintegritas dan damai. Masa kampanye dimulai 28 Oktober 2016 hingga 11 Februari 2017.

Menurut Ketua KPU Kota Jogja Wawan Budianto, selama masa kampanye tersebut tiap paslon mendapat jatah kampanye terbuka sekali. Apakah jatah tersebut mau digunakan atau tidak, Wawan menyerahkan sepenuhnya ke paslon dan timnya. (pra/ila/mg1)