MAGELANG – Jumlah masyarakat miskin (prasejahtera) di Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, sebesar 60 persen dari total penduduk 12.514 jiwa. Data itu berdasarkan catatan kependudukan pada 2015 silam. Di sisi lain, Pasar Rejowinangun merupakan sumber ekonomi sekaligus penyumbang limbah atau sampah yang berpotensi mencemari lingkungan. Salah satu limbah yang sulit diolah adalah kaleng.

Dengan alasan itu, Program Hibah Bina Desa (PHBD) Universitas Tidar (Untidar) Magelang ditujukan untuk Kelurahan Rejowinangun Utara. Program ini berjudul “Pemberdayaan Kaum Marjinal Berbasis Ekonomi Kreatif dengan Sistem Bank Limbah di Kelurahan Rejowinangun Utara. Melalui Daur Ulang Limbah Kaleng Bekas Menjadi Aneka Replika Binatang”. Dana dari Kemristekdikti yang turun nilainya Rp 40 juta.

“Perlu uluran tangan melalui mekanisme pemberdayaan masyarakat dalam bidang perekonomian. Caranya dengan membuka peluang usaha memanfaatkan limbah kaleng yang melimpah itu,” ujar salah satu Tim PHBD Untidar Rohman Muhammad Pradana kemarin (25/10).

Menurutnya, limbah kaleng bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan dengan nilai ekonomi tinggi. Limbah kaleng memiliki prospek yang menjanjikan karena relatif mudah diusahakan. “Selain itu, masyarakat akan lebih mudah mendapatkan kaleng dengan memanfaatkan limbah yang ada,” jelasnya.

Pembimbing PBHD Untidar berharap, kegiatan ini bisa berkembang. Tidak hanya antara Untidar dan Kelurahan Rejowinangun Utara, tapi juga menjadi proyek besar pengelolaan sampah dan daur ulang di wilayah Kota Magelang.

Sementara itu, Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Rejowinangun Utara Kiswati berharap, pelatihan daur ulang kaleng dapat menambah keterampilan warganya. Terutama pegiat bank sampah kelurahan dan Kota Magelang khususnya. “Semoga keterampilan ini bisa menjadi sumber penghasilan ekonomi,” katanya. (ady/laz/mg2)