KULONPROGO – Salah satu sentra gerabah Kulonprogo ada di Pedukuhan Senik, Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah. Eksistensinya mulai terancam perkembangan zaman yang menawarkan produk pabrikan.

Kepala Dusun Senik Tukijo mengatakan perajin gerabah tengah menghadapi kendala. Selain hujan, perajin juga mulai kehilangan pasar, khususnya pasar untuk pot tanah liat.

“Penurunan pasar terjadi setahun lalu. Padahal harga jual pot tanah liat lebih bagus (mahal) dibanding tungku. Namun segmen pasarnya tergeser produk pabrikan berbahan plastik,” kata Tukijo kemarin.

Harga pot tanah liat bervariasai. Tergantung bentuk dan ukuran, mulai Rp 3 ribu hingga Rp15 ribu. Sementara untuk harga tungku tanah liat Rp 2 ribu hingga Rp 12 ribu per buah.

“Kami tidak mungkin menurunkan harga. Kalau diturunkan harganya tidak menutup ongkos produksi,” kata Tukijo.

Pembeli pot tanah liat kini semakin sedikit. Para perajin gerabah hanya memproduksi pot tanah liat jika ada pesanan. “Pesanan minimal 50 buah,” kata Tukijo.

Salah satu perajin gerabah, Haryanti, mengatakan cuaca sedang tidak bersahabat. Curah hujan tinggi membuat perajin kesulitan saat ingin menjemur gerabah sebelum proses pembakaran.

Saat matahari terik, penjemuran hanya butuh tiga jam. Namun saat mendung, gerabah harus dijemur sehari penuh.

“Untuk pembakaran, sekali bakar minimal 80 gerabah ukuran besar. Jika cuaca bagus, dua minggu sekali kami bakar. Namun saat hujan seperti ini, pembakaran tiga minggu sekali,” kata Haryanti. (tom/iwa/mg2)