Asap Dapur Mengepul Sekaligus Ikut Lestarikan Budaya

Keterampilan membuat blangkon tidak dimiliki semua orang. Sebab, ada kerumitan tersendiri. Tak heran jika jumlah perajin yang perhatian dalam melestarikan pembuatan blangkon sedikit. Di antara yang sedikit itu, ada sekelompok perajin di Bulu, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul.
DEWI SARMUDYAHSARI, Gunungkidul
MESKI harus ekstra keras mengolah lahan di daerah karst, warga di Dusun Bulu masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencahariannya. Tak sedikit yang mengolah lahan pertaniannya secara berkelompok.

Di balik pemandangan itu, ada sebagian warga yang menggantungkan hidup dengan cara lain, yakni membuat blangkon. Dengan keterampilan individual, para perajin secara komunal membuat kelompok untuk bersama-sama membuat blangkon. Alasannya, modal bisa ditanggung bersama. Begitu pula dalam pemenuhan pesanan dari pelanggan.

“Kelompok perajin blangkon ini sudah ada sejak 2007,” ujar Ketua Kelompok Perajin Blangkon Sidodadi Robert Sugiyardi belum lama ini.

Selain untuk menghidupi keluarga, para perajin juga memiliki semangat lain, yakni mengembangkan dan melestarikan budaya Ngayogyakarta Hadiningrat. “Kelompok kami kurang lebih menaungi 25 orang. Selain bapak-bapak, juga beranggotakan ibu rumah tangga, serta pemuda Karang Taruna,” ungkap Sugiyardi, sapaannya.

Keberadaan kelompok perajin blangkon ini juga memiliki semangat lain yakni memberdayakan pemuda-pemudi setempat untuk membangun desa bersama. Dengan cara meningkatkan kualitas diri dan berkreasi membuat blangkon.

“Jadi mereka tidak usah merantau, di desanya sendiri mereka tetap bisa menghasilkan dengan membuat blangkon,” ujarnya.

Di tangan 25 perajin inilah blangkon diproduksi, antara lain model mataraman, model Solo, model warok, dan sebagainya. Untuk bahan baku kain batik, mereka bekerja sama dengan perajin batik di Jogja.

Sedangkan untuk pemasaran, 70 persen masih dipasarkan ke pasar tradisional, yakni Pasar Beringharjo. Sedangkan 30 persennya, dijual lewat jaringan online. “Kalau yang online masih dijual di seputar Jakarta, Bali, dan Kalimantan,” ungkapnya.

Wakil Ketua Kelompok Suratno mengungkapkan, sebetulnya pesanan dari luar negeri juga ada. Namun skalanya masih kecil. Sebab, mereka belum berani untuk ekspor. “Alasannya ya karena kami belum tahu seluk beluk ekspor seperti apa, jadi belum berani,” jelas Suratno.

Pria berusia 42 tahun ini sendiri sudah lebih dari 10 tahun menggeluti kerajinan blangkon. Spesialisasinya yakni membuat blangkon alusan dengan tingkat kesulitan tinggi. Karena proses menjahitnya berbeda.

“Bisa membuat blangkon karena ada pelatihan oleh Disperindagkop Gunungkidul. Sampai sekarang pelatihan itu masih ada, khususnya untuk muda-muda agar mereka tertarik membuat blangkon juga,” ujarnya yang sebulan bisa membuat 90 buah blangkon. (ila/ong)