SLEMAN – Cuaca ekstrem yang terjadi sejak awal 2016 akhirnya disikapi serius oleh Pemkab Sleman. Dengan diterbitkannya Keputusan Bupati Nomor 64/kep.KDG/A/2016 tentang Status Siaga Darurat Banjir dan Tanah Longsor. Kondisi ini berlaku 40 hari sejak keputusan ditetapkan Jumat (21/10).

Kemarin (23/10) seluruh relawan siaga bencana dikumpulkan dalam sebuah apel di Lapangan Denggung.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Kunto Riyadi mengatakan, apel tersebut wujud penguatan sinergitas lintas sektoral dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Empat kawasan masuk zona merah yang mendapat pengawasan khusus karena potensi bencana banjir dan longsor cukup tinggi. Yakni, Kecamatan Turi, Pakem, Prambanan, dan Cangkringan. Ini karena daerah ini memiliki kerawanan tinggi untuk banjir dan longsor. “Kuncinya pada komunikasi dan koordinasi yang baik. Jika ini bisa dilakukan, penanganan bencana bisa cepat dan tepat,” katanya usai apel siaga.

Selain banjir dan tanah longsor, Kunto mengingatkan enam potensi bencana lain yang juga kerap melanda Sleman. Yaitu, banjir lahar hujan di sungai berhulu puncak Gunung Merapi, gempa bumi, angin kencang, kekeringan, dan kebakaran. Dan erupsi Merapi secara periodik.

“Informasi Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebutkan cuaca ekstrem hingga penghujung 2016. Ini harus diwaspadai bersama. Di tiap wilayah harus terbangun masyarakat tangguh bencana,” papar Kunto.

Memasuki masa pancaroba intensitas hujan di wilayah Sleman cukup tinggi. Kondisi ini biasanya diikuti angin kencang, petir, banjir, serta tanah longsor.

Sementara Bupati Sri Purnomo mengingatkan pentingnya kemampuan mitigasi bencana bagi masyarakat. Khususnya, warga yang berdomisili di kawasan rawan bencana. Hal itu guna meminimalisasi dampak risiko bencana, baik jumlah korban maupun kerugian materiil.

“Ini penting supaya warga bisa langsung bertindak saat terjadi bencana. Karena merekalah yang berada di garda terdepan,” katanya. (dwi/yog/mg2)