JOGJA – Hingga kini kelainan berupa kerusakan otak yang menyebabkan gangguan motorik (cerebral palsy) masih belum begitu dipahami masyarakat. Bahkan, seringkali orang tua menyadari sang anak mengidap cerebral palsy ketika sudah terlanjur dewasa. Hal itu tentunya menyulitkan upaya penanganannya.

Ketua Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) Anis Trilestari mengatakan, cerebral palsy tak hanya berdampak pada kemampuan motorik, seperti tak bisa berjalan atau kedua tangan tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Juga bisa menyebabkan dampak terhadap menurunnya kemampuan intelektualitas.

“Kami ingin masyarakat lebih memahami cerebral palsy,” ujarnya dalam peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia di Jogja City Mall, kemarin (23/10).

Anis menuturkan, acara tersebut digelar untuk lebih mengenalkan cerebral palsy kepada masyarakat luas. Menurutnya, selama ini keluarga atau orang tua penyandang cerebral palsy seringkali terlambat menyadari jika anaknya mengidap cerebral palsy.

“Biasanya, orang tua menganggap remeh terhadap kelainan yang terjadi pada anak, sehingga ketika menyadari kelainan itu ternyata cerebral palsy, kondisi si anak sudah cukup parah, ungkapnya.

Karena itu, kata Anis, melalui peringatan Hari Cerebral Palsy, pihaknya berharap agar para orang tua dan penyandang cerebral palsy bisa saling berbagi pengalaman. Hal ini menjadi penting, karena penyandang cerebral palsy tidak semua mengalami keterbelakangan mental atau intelektualitas.

“Penyandang cerebral palsy ini juga ada yang sarjana dan mampu berkarya, sehingga melalui ajang komunitas ini kami ingin menunjukkan bahwa para penyandang cerebral palsy juga bisa berkarya,” ungkapnya. (sky/ila/ong)