BANTUL – Pesta pemilihan lurah desa (pilurdes) serentak kemarin (23/10) ternoda. Pendukung salah satu calon lurah di Jatimulyo, Dlingo merusak dan membakar kios bakso dan mi ayam. Aksi anarkistis ini sebagai buntut kekalahan calon lurah yang mereka dukung.

Dari informasi yang dihimpun Radar Jogja, kerusuhan terjadi sekitar pukul 15.30. Persis setelah proses penghitungan suara selesai. Kerusuhan ini melibatkan pendukung salah satu calon lurah bernama Puryanto. Para pendukung calon lurah nomor urut satu ini tidak terima dengan kekalahan jago mereka. Mereka menuding kekalahan ini karena ada yang berkhianat.

“Sehingga mereka ngamuk dengan membakar warung,” jelas Sumiyatno, 40, salah satu warga.

Warung dengan bangunan konstruksi kayu tersebut merupakan milik Tuyono. Warga Pedukuhan Dodogan ini dicurigai membelot dan mengalihkan dukungannya kepada calon lurah nomor urut tiga atas nama Gunarta.

Padahal, warga Pedukuhan Dodogan telah sepakat dan memiliki calon sendiri yaitu Puryanto. Menurut Sumiyatno, gelagat Tuyono ini sudah terendus sebelum coblosan. Tuyono diketahui berulang kali mengajak warga Dodogan memilih nomor urut tiga. “Mungkin dia telah menerima uang,” ucapnya.

Senada disampaikan warga lain Suwarno. Dia menyebut ada tiga bangunan warung milik Tuyono yang menjadi sasaran amuk massa. Satu dibakar. Dua lainnya dengan cara dirusak. “Yang dirusak dekat dengan permukiman,” ungkap Suwarno.

Sepengetahuannya, gelagat kerusuhan sudah tercium saat proses penghitungan suara. Pendukung nomor urut satu berkerumun di Pedukuhan Dodogan. Setelah mengetahui jago mereka kalah dengan selisih 42 suara dengan nomor urut tiga, mereka lantas bergerak melakukan aksi anarkistis.

Beruntung, aksi ini segera teredam. Puluhan anggota Polsek Dlingo dan Koramil Dlingo langsung turun ke lapangan menghalau massa. Juga memadamkan api yang membakar warung. “Sempat sulit karena massa tersulut emosinya,” jelas Kapolsek Dlingo AKP Amir Mahmud.

Agar kejadian serupa tak terulang, puluhan personel kepolisian dan koramil diterjunkan untuk berjaga-jaga. Adapun Tuyono diamankan ke Mapolsek. “Yang bersangkutan juga akan kami mintai keterangan,” lanjutnya.

Terkait pembakaran dan perusakan tiga bangunan warung, bekas Kanit Laka Satlantas Polres Bantul ini belum bisa berkomentar banyak. Termasuk menjerat para pelakunya.

Dari pantauan, ada dua pilurdes yang hampir rusuh. Yakni di Argomulyo, Sedayu dan Trimulyo, Jetis. Kapolsek Sedayu Kompol M. Nawawi mengungkapkan, usai penghitungan suara situasi sempat memanas. Sebab, para pendukung calon lurah yang dinyatakan menang menggelar konvoi. Dengan sepeda motor blombongan, puluhan orang ini merayakan kemenangan calon mereka. “Sehingga ada pendukung lain yang tersulut emosinya,” ujarnya.

Beruntung, situasi ini segera mereda. Anggota Polsek Sedayu langsung menggelar razia sepeda motor blombongan. “Alhamdulillah. Aman,” tegasnya.

Penyebab situasi memanas di pilurdes Trimulyo juga hampir serupa. Belum siapnya kekalahan antarpendukung hampir memicu gesekan. “Sempat ada yang teriak-teriak. Terus hampir tawuran. Tetapi, langsung kami amankan,” tambah Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo.

Terkait pembakaran warung di Jatimulyo, Anggaito mengaku masih belum mengetahui pasti penyebabnya. Apakah karena pilurdes atau faktor lainnya. “Ini masih kami dalami,” bebernya.

Di sisi lain, gelaran pilurdes serentak juga menyisakan sejumlah catatan. Di antaranya, pemindahan mendadak tiga tempat pemungutan suara (TPS) di Kompleks Lanud Adisutjipto ke halaman Kantor Kelurahan Banguntapan. Pemindahan mendadak ini berdampak pada menurunnya tingkat partisipasi pemilih.

Pj Lurah Banguntapan Puthut Damarjati mengungkapkan, pemindahan tiga TPS ke halaman kantor kelurahan sebagai pilihan terakhir. Itu menyusul pemberitahuan mendadak yang dilayangkan Lanud Adisutjipto. “Satu setengah hari menjelang pilihan pemberitahuannya,” jelas Puthut kemarin.

Puthut mengaku, tidak mengetahui alasan pasti Lanud Adisutjipto tidak bersedia bekerja sama dengan panitia pilurdes. Meskipun panitia pilurdes Sabtu (22/10) telah berusaha meminta penjelasan kepada pihak Lanud Adisutjipto. Tetapi, informasi yang beredar menyebutkan lanud ingin wilayahnya steril dari berbagai kegiatan pemilihan. “Katanya, lanud bebas dari politik,” ucapnya.

Menurutnya, alasan yang disampaikan pihak lanud ini cukup aneh. Sebab, Kompleks Lanud selama ini sering menjadi langganan berdirinya tiga TPS. Mulai pilpres, pileg, hingga pilkada. Bahkan, praktik ini sudah terjadi sejak puluhan tahun silam. Toh, tiga TPS di Kompleks Lanud ini juga untuk memfasilitasi keluarga anggota TNI AU.

“TNI AU memang netral. Tetapi, anggota keluarganya kan punya hak pilih,” keluhnya.

Puthut menyebut ada 903 pemilih yang tersebar di tiga TPS di Kompleks Lanud. Yakni, TPS 66, 67, dan 68. Dengan adanya pemindahan mendadak ini, pemilih yang menyalurkan hak politiknya di masing-masing TPS tak lebih dari 30 persen. Di TPS, 66, misalnya, yang ikut memilih hanya 10 persen. Setali tiga uang di TPS 67. Adapun tingkat partisipasi di TPS 68 cukup lumayan. Mencapai 20 persen. “Dari 903 orang, yang menggunakan hak pilihnya kurang dari 100 orang,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih di sela meninjau pilurdes di Kelurahan Banguntapan mengakui turunnya tingkat partisipasi di tiga TPS lantaran jarak. Kendati begitu, kondisi tersebut tidak berpengaruh terhadap keabsahan hasil pilihan.

Berbeda dengan Halim, Ketua Komisi A DPRD Bantul Amir Syarifudin menegaskan, Lanud Adisutjipto harus memberikan penjelasan gamblang terkait larangan pendirian tiga TPS. Agar tidak muncul kesan TNI AU menghambat pelaksanaan pesta demokrasi.

Kapentak Lanud Adi Sutjipto Mayor Giyanto belum dapat dikonfirmasi mengenai hal ini. Handphone-nya tidak dapat dihubungi. Pesan singkat melalui Whatsapp juga belum direspons hingga berita ini diturunkan. (zam/ila/ong)