Korban Bencana Longsor dan Banjir Terima Santunan

Kebersamaan dalam keluarga tidak bisa diukur dengan uang. Begitu juga bagi korban tanah longsor dan bencana banjir yang melanda Purworejo, beberapa waktu lalu. Bagaimana kesan mereka menerima santunan dari pemerintah?
BUDI AGUNG, Purworejo
Sepasang kruk tangan diletakkan bertumpuk di depan kursi yang diduduki Ari Setyaningsih, korban selamat longsor Desa Donorati, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. Tatapannya ke depan melihat tenda-tenda berukuran besar di Lapangan Desa Sidorejo, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, akhir pekan lalu(22/10).

Dipersilakan menuju tengah lapangan, tertatih Ari berusaha untuk bisa sampai. Berjajar rapi, orang yang berada di belakangnya cukup sabar menemani langkah Ari hingga ke tengah. Entah apa yang ada di pikiran Ari, saat Bupati Purworejo Agus Bastian menyerahkan amplop-amplop kepadanya. Ia hanya mengulas senyum dan membisikkan kata terima kasih.

Ya, Ari adalah satu di antara beberapa orang yang mendapat bantuan tunai dari Kementrian Sosial dan gubernur Jawa Tengah. Belum ada rencana untuk apa puluhan juta rupiah uang santunan yang diperolehnya.

Disinggung bagaimana perasaannya menerima uang itu, Ari hanya menggeleng dan menerawangkan matanya. “Saya sekarang tinggal di tempat orang tua saya di Kroyo (Kecamatan Kemiri). Baru dua kali ke Donorati,” kata Ari.

Hanya dirinya mengaku akan lebih sering mendatangi desa asal almarhum suaminya karena sang suami dan kedua anaknya dimakamkan di desa itu. “Suami dan anak-anak dimakamkan di sana. Saya akan selalu mengingat mereka,” tambah Ari.

Tidak berbeda, Riza Oktavi Nugraheni, korban selamat yang sempat tertimbun material longsor hampir 12 jam di Desa Donorati, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, mengungkapkan jika bisa memilih ia akan lebih memilih tetap bersama anaknya yang menjadi salah satu korban.

“Kalau boleh memilih, tentu saya memilih anak saya daripada santunan ini. Tapi saya berterima kasih diberikan ini semua dari pemerintah. Banyak hikmah yang saya petik dari kejadian ini,” ungkap Riza yang kini memilih menetap di Tangerang bersama suaminya.

Ditambahkan, dari kejadian itu dirinya mengaku mendapat saudara baru dan berkenalan dengan banyak orang dari manapun. Banyak simpati dan bantuan yang mengalir pada dirinya. “Semua orang sudah baik kepada saya, saya mengucapkan terima kasih untuk semuanya,” kata Riza yang tengah mengandung tiga bulan ini.

Dikatakan, sampai sekarang ia masih ingat tangisan terakhir sang anak sebelum akhirnya tidak terdengar lagi suaranya. Dan, sore itu adalah kebersamaan terakhirnya. Selepas kejadian itu ia tidak bisa melihat dan mendampingi sang anak saat dikebumikan. “Anak saya dimakamkan di Kampung Brengkelan, tempat simbah buyutnya,” tambahnya.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Purworejo Soetrisno mengatakan, 46 korban bencana banjir dan longsor yang meninggal dunia mendapatkan santunan dari pemerintah pusat dan provinsi. Sebelumnya, telah diberikan kepada 28 korban yang diberikan langsung oleh Mensos Khofifah Indar Parawansa. Dan akhir pekan lalu, diberikan kepada ahli waris yang belum mendapatkan.

“Selain kepada korban meninggal dunia, juga diberikan kepada korban yang mengalami luka-luka dan mendapat perawatan dari rumah sakit,” ujar Soetrisno, didampingi Kabid Sosial Sri Lestariningsih. (laz/ong)