JOGJA – Sepanjang Jalan Ireda, Kelurahan Keparakan, Kecamatan Mergangsan, Jogja terlihat ramai akhir pekan kemarin. Suara yel-yel dan pekikan Murwasaka terdengar riuh. Kemudian disusul iring-iringan kelompok masyarakat yang ikut dalam Ireda Carnival.

Paling unik memang penampilan bregada Murwasaka. Murwasaka merupakan singkatan dari muda-mudi rukun warga sepuluh Keparakan. Mereka memilih tampah sebagai tameng, sapu lidi, dan bambu sebagai senjata. Bregada ini berjumlah lima orang. Berkostum warna-warni, merah, kuning, biru, hijau, dan hitam. Serempak dengan tiga puluh barisan rewo-rewo berkostum serba hitam meneriakkan yel-yel keguyuban.

Tampak di ujung barisan, di atas kereta berdiri seorang bidadari mengenakan busana serba putih bersayap malaikat didampingi dua bidadari cilik. Sang bidadari bersayap malaikat rupanya adalah pemimpin barisan. Sekali dia serukan “salam saka” yang dijawab dengan spontan barisan rewo-rewo di depannya dengan pekik Murwasaka.

Para bregada, barisan rewo-rewo dan bidadari bersayap itu adalah salah satu kelompok peserta pawai Ireda Carnival. Acara seni budaya yang digelar setiap tahun dalam rangka HUT Kota Jogja. Kali ini diadakan oleh Kelurahan Keparakan dari Kecamatan Mergangsan. Diikuti tiga belas RW dari kampung Keparakan Lor, Keparakan Kidul, Dipowinatan, dan Pujokusuman.

“Tema tahun ini adalah Keparakan Heritage,” ungkap Koordinator Murwasaka Maseko kemarin.

Maseko mengungkapkan, semua peserta mengenakan kostum hasil kreativitas sendiri. Termasuk memanfaatkan fasilitas yang ada di kampung. “Di kampung kami ada pemasok ayam potong, ya kami manfaatkan saja bulunya jadi kostum bidadari. Menjahit kain furing, merangkai potongan bambu, dan apa saja di lingkungan kami. Yang penting sehat, bagus, dan terjangkau,” ungkapnya.

Selain Murwasaka, masih ada sekitar 12 kelompok lain. Peserta tidak hanya dari kampung tapi juga diikuti oleh sekolah-sekolah dasar setempat. Kostum yang ditampilkan beragam bentuk dan warna. Mirip kostum-kostum pawai karnaval yang digelar Pemkot Jogja di Malioboro beberapa waktu lalu.

“Harapan kami di tahun depan bisa lebih semarak. Misalnya ditambahi acara family day, dan bazar, sebagaimana event yang sama di tahun lalu. Warga kan jadi lebih diikutsertakan. Jadi makin gayeng. Ini juga merupakan ajang promosi pariwisata setempat lho,” harapnya. (her/ila/ong)