MAGELANG – Lahan pertanian berupa sawah, tegal dan perkebunan di Kota Magelang pada 2015 lalu hanya seluas 209 hektare. Keterbatasan lahan ini menyebabkan konsep pertanian tradisional sangat sulit dikembangkan. Banyak lahan produktif berada di tengah perumahan dan tidak digarap.

Dengan alasan itu, Pemkot Magelang mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming). Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan tidur yang ada.

“Lahan pertanian kota berkurang karena alih fungsi lahan. Seperti untuk perumahan atau permukiman,” kata Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kota Magelang Sri Retno Murtiningsih di sela-sela membuka Gelar Potensi Pertanian Tahun 2016 kemarin (21/10).

Ia mengatakan, urban farming yang dikembangkan ini menyesuaikan dengan lahan yang ada. Mengingat luas lahan pertanian yang ada 290 hektare. Namun sekarang tinggal 209 hektare. Untuk itu, Pemkot Magelang akan terus mempertahankan agar lahan pertanian yang ada sekarang jangan berkurang lagi. “Upaya yang dilakukan yakni dengan membuat Perda RTRW,” jelasnya.

Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina menyampaikan, konsep pertanian perkotaan meliputi pertanian hortikultura, peternakan, perikanan dan kehutanan. Yaitu dengan memanfaatkan lahan tidur atau lahan tidak terpakai menjadi lahan budidaya. Cara lainnya dengan memanfaatkan pekarangan, balkon atau atap-atap bangunan, pinggiran jalan umum atau tepi sungai.

Pada Gelar Potensi Pertanian Tahun 2016 ini, pemkot menggelar pameran dan lomba aneka produk usaha pertanian. Seperti tanaman hias, sayuran organik, hasil olahan lidah buaya. Kemudian display teknologi bertanam hemat lahan maupun lainnya. (ady/laz/ong)