JOGJA – Wilayah DIJ terletak pada garis bencana. Khususnya gempa bumi. Bencana yang disebabkan pergeseran sesar tersebut selalu berpeluang terjadi. Karena itu, kesiapan menghadapi berbagai bencana harus dilakukan sedini mungkin.

“Belajar dari gempa 2006 masyarakat bingung menghadapinya. Ini karena ada pengetahuan yang putus di masyarakat,” ujar Sekretaris Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Jogja Adinda Tri Jaka di sela simulasi penanggulangan gempa di SD Muhammadiyah Karangkajen kemarin (21/10).

Dinda, sapaannya, menjelaskan, pengetahuan tentang kegempaan dan mitigasi bencana cukup penting guna meminimalisasi korban dan kerugian materiil. Jika warga paham terhadap gempa, antisipasi bisa dilakukan. “Misalnya tempat berlindung, harus keluar rumah. Jangan malah di dalam kamar,” jelasnya.

Nah, dalam pembelajaran menghadapi bencana tak cukup sebatas teori. Terutama bagi anak-anak. Mereka perlu pengalaman langsung. Merasakan seolah terjadi bencana sungguhan. “Makanya kami lakukan simulasi seperti ini agar saat dewasa nanti mereka ingat,” kata Dinda.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Agus Winarto menyambut positif simulasi penanganan bencana. Menurutnya, penyebaran pengetahuan soal kebencanaan adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya tugas pemerintah.

“Jika sosialisasi bisa menyentuh serluruh lapisan masyarakat tentu ancaman korban nyawa bisa diantisipasi. Bahkan, sampai tak ada korban. Tinggal bagaimana mengantisipasi ancaman bencana itu, ” jelasnya. (eri/yog/ong)