DI ERA digital ini, keberadaan radio masih di bawah internet dan televisi. Bahkan sebagian orang memiliki persepsi jika reputasi radio kian menurun.

Pada kenyataannya masih banyak anak muda aktif sebagai pendengar radio. Bahkan dari yang awalnya pendengar justru ingin mencoba menjadi penyiar.

Gayari Jamila dari SMAN 1 Kasihan mengatakan radio masih menjadi media yang menyenangkan. “Radio itu di manapun dan disambi ngapain pun bisa didengerin. Setiap pagi ga pernah absen dengerin info lewat penyiar yang bawel dan cerdas,” ujar cewek yang bercita-cita menjadi penyiar radio.

Sebagai sarana untuk mengeksplore bakat pencinta radio, MMTC Radio Jogja untuk kali keempat mengadakan Public Announcer Radio Day atau PARD (21/10). Lomba penyiar radio ini diikuti sekitar 60 pelajar SMA dan umum tingkat Jogja-Jateng.

PARD mengajak anak muda kritis membawa perubahan positif melalui media. Dengan berpartisipasi mengikuti kompetisi ini, peserta berani mencoba melakukan kegiatan baru dan positif dalam penyaluran bakat terutama dalam dunia radio.

Sebelum berkompetisi, mereka mengikuti workshop singkat “How To Be A Good Announcer” bersama Alia Kariz, Announcer Swaragama FM. “Workshop ini dilakukan agar teman-teman mendapat pengetahuan tentang teknik siaran radio,” ujar Dhimas Aditya, Koordinator Acara.

Acara di Sekolah Tinggi Multi Media Jogja ini berlangsung ramai. Terutama dengan adanya food festival dan donor darah masal.

“Acaranya seru. Dikemas menarik, peserta yang nunggu antrean lomba ga bosen karena selalu banyak acara menghibur,” kata Muhamad Aziz Darmawan, peserta dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Solo.

Pemenang kompetisi akan diumumkan pada malam puncak PARD, Sabtu (29/10) di Auditorium MMTC Jogja. Malam Puncak ini terbuka untuk umum. Buat Zetizens, terutama penggemar Batiga, jangan ketinggalan performnya. Info lengkap follow instagram dan twitter @mmtcradiojogja. (val/iwa/ong)