Pelantikan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) DIJ ternyata juga ditandai sukses lembaga itu mempersatukan dua figur sentral di Keraton Jogja.

Dua figur itu adalah Sultah Hamengku Buwono (HB) X dan GBPH Prabukusumo. Sejak adanya sabdaraja dan dawuhraja, seolah-olah antara HB X dan Prabukusumo tak lagi seiring sejalan. Keduanya terpisah dengan adanya perbedaaan sikap terkait sabdaraja dan dawuhraja.

Namun dalam kepengurusan ICMI Orwil DIJ periode 2016-2021, kedua putra HB IX itu disatukan dalam satu wadah. HB X dan Prabukusumo sama-sama duduk sebagai dewan penasihat. Raja Keraton Jogja itu menjadi ketua dewan penasihat dan Prabukusumo sebagai salah satu anggotanya.

Meski saman-sama duduk sebagai penasihat, keduanya tak sempat bertemu fisik. Saat pelantikan yang dipimpin Ketua Umum Pengurus Pusat ICMI Jimly Asshiddiqie. Penyebabnya, HB X berhalangan hadir karena tengah mengikuti rakor gubernur se-Indonesia dengan Presiden Jokowi. Sedangkan Prabukusumo hadir dari awal hingga acara bubar.

Ketua ICMI DIJ Herry Zudianto dalam sambutannya banyak mengupas soal isu keistimewaan DIJ. Terutama sembilan arah renaissance yang menjadi visi misi gubernur DIJ periode 2012-2017, yang disampaikan di depan rapat pleno DPRD DIJ pada Oktober 2012. “Keistimewaan DIJ menghadapi tantangan eksternal maupun internal,” ucap wali kota Jogja periode 2001-2011 ini.

Herry ingin pengurus ICMI DIJ bisa menangkap semangat Jogja renaissance dengan gagasan produktif. Sebab, keistimewaan DIJ harus dapat membawa perubahan dan perabadan baru di masyarakat.

Jimly sepakat dengan ajakan itu. Sebagai kota yang punya segudang cendekiawan, ICMI DIJ harus memberikan karya nyata. “ICMI jangan sampai tidur atau pingsan,” pesan ketua pertama MK itu.

Menurut dia, ICMI punya tanggung jawab mengembangkan iptek dan imtak di masyarakat. Jimly juga ingin pengurus dan anggota ICMI bisa mewujudkan kampus masjid dan masjid kampus di berbagai perguruan tinggi di DIJ. (kus/ong)