BANTUL – Para petani di Desa Donotirto dan Tirtohargo, Kecamatan Kretek, harap-harap cemas. Sebab, kontruksi salah satu bendung yang terletak di Pedukuhan Gading Daton, Donotirto, jebol. Dampaknya, aliran air dari anakan Sungai Winongo ini tak terbendung.

Subaryadi, 64, seorang petani asal Gading Daton mengungkapkan, jebolnya bangunan yang sering disebut dengan Bendung Karang ini pukul 15.00 Kamis (20/10). Saat kejadian wilayah Bantul, terutama di Desa Donotirto, cerah. “Airnya memang besar. Mungkin kiriman dari utara (Kota Jogja dan Sleman),” jelas Subaryadi kemarin (21/10).

Sehari-hari, Bendung Karang berfungsi menahan aliran anak Sungai Winongo, agar air bisa dialirkan ke area pertanian. Aliran air ini disalurkan ke area pertanian di dua desa, Donotirto, dan Tirtohargo. Dengan jebolnya bendung ini praktis aliran air ke area pertanian di dua kelurahan ini mandeg. “Bablas ngidul banyune,” ucapnya.

Titik lubang berada di sisi timur bendung. Lebar lubang sekitar enam meter. Subaryadi mengungkapkan, kontruksi Bendung Karang memang perlu diperbaiki. Ada banyak titik kontruksi yang terlihat retak-retak.

Setali tiga uang, tanggul di sisi barat dan di sisi timur. Banyak yang berlubang. Sehingga air tampak keluar dari celah-celah tanggul saat debit air tinggi. “Nek ora didandani, yo, iso jebol tanggule,” keluhnya.

Agar segera tertangani, Pemerintah Desa Donotirto langsung melaporkan jebolnya Bendung Karang ini ke Dinas Sumber Daya Air (SDA). “Dari dinas sudah ada yang survei,” tambah pria yang juga pamong Desa Donotirto ini.

Terpisah, Kasi Operasi Jaringan Irigasi Dinas SDA Bantul Yitno mengaku sudah mengetahui jebolnya Bendung Karang ini. Bahkan, dia juga sudah datang meninjau lokasi. Dia menengarai jebolnya bendung ini karena minimnya penahan di bawah pondasi. “Bawah pondasi itu kan pasir semua,” ungkapnya.

Kendati begitu, Dinas SDA Bantul tidak bisa berbuat banyak. Dinas SDA hanya bisa melaporkan jebolnya bendung ini ke Balai Besar Wilayah Sungai Srayu Opak (BBWSO). Sebab, BBWSO lah yang memiliki kewenangan. “Bukan kewenangan kabupaten,” ujarnya.

Yitno berharap BBWSO segera turun dengan melakukan perbaikan. Mengingat fungsi Bendung Karang bagi para petani di wilayah Donotirto dan Tirtohargo cukup vital. “Lahan pertanian 160 hektare bergantung pada bendung ini,” tambahnya. (zam/laz/ong)