PURWOREJO-Lima saksi kasus operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberatantasan Korupsi (KPK) atas dugaan korupsi ijon proyek di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kebumen senilai Rp 4,8 miliar diperiksa di Mapolres Purworejo kemarin (20/10).

Anehnya, Kapolres AKBP Satrio Wibowo tidak mengetahui persis alasan dipilihnya Purworejo sebagai lokasi pemeriksaan. “Kami sifatnya membantu saja. Ya, silakan saja (tempat kami) digunakan,” ujarnya.

Lima orang yang dimintai keterangan adalah Salim (kepala cabang PT OSMA Grup Kebumen), Basikun atau Ki Petruk Kebumiyah (aktivis LSM), Imam Syatibi pejabat rektor Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) serta dua pegawai Dikpora Kebumen, yakni Yasinta dan Arif Budiman.

Hadir di Polres Purworejo sekitar pukul 10.00, secara bergantian para saksi diperiksa oleh penyidik KPK. Masing-masing di ruang unit 1, 2,dan 3 Tipidum/Tipikor. Pemeriksaan berlangsung tertutup.

Salah seorang saksi, Ki Petruk Kebumiyah mengakui, kehadirannya di Purworejo untuk memenuhi panggilan KPK. “Saya juga tidak tahu alasannya apa diperiksa di sini (Purworejo). Mungkin suasananya dianggap netral,” katanya.

Ki Petruk menolak menjelaskan substansi dugaan korupsi yang mengakibatkan pegawai negeri sipil (PNS) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kebumen Sigit Widodo dan Ketua Komisi A DPRD Kebumen Yudhi Tri Hartono ditetapkan sebagai tersangka.

Sedangkan Imam Syatibi menyatakan, penyidik menanyakan banyak persoalan. Namun, substansinya tetap berkaitan dengan Sigit dan Yudhi. ” Belum mengarah pada kasus. Pertanyaannya lebih pada apakah kami kenal dengan dua orang itu,” bebernya.

Sementara itu di Jakarta KPK juga memeriksa Direktur PT Osma Grup Hartoyo untuk tersangka Yudhi Tri Hartanto. Hartoyo diduga berperan sebagai penyandang dana atas uang Rp 70 juta yang digunakan sebagai pelican bagi Yudhi dan Sigit. Hartoyo dicekal selama enam bulan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi.(udi/yog/ong)