GUNUNGKIDUL – Pelayanan RSUD Wonosari kembali dikeluhkan. Dua warga kesal dan nekat menggelar aksi di rumah sakit pelat merah tersebut. Sempat terjadi ketegangan, namun aksi berlangsung hingga selesai.

Dua warga yang menggelar aksi itu Endro Guntoro dan Rino Caroko, keduanya aktivis LSM. Mereka mendatangi RSUD Wonosari lantaran mendapat laporan keluarga pasien di Ponjong. Diduga mendapat pelayanan buruk, pasien Edy Subroto terlambat ditangani dan meninggal.

Aksi Endro dan Rino mendapat pengawalan polisi berpakaian preman. Tidak ada orasi, dua warga tersebut mendatangi sopir ambulans berniat menempel stiker di ambulans. Terdapat tulisan di stiker itu, “pasien miskin rumah sakit kesulitan menggunakan ambulans” dan “ambulans rumah sakit tidak berguna”.

Ketegangan sempat muncul lantaran satpam RSUD Wonosari bertanda nama di dada Sugiyanto melarang aksi tempel stiker itu. Rino menyeret tangan Sugiyanto untuk menyingkir.

“Kenapa dilarang? Kami lakukan aksi ini sebagai protes atas ketidakprofesionalan pelayanan RSUD Wonosari,” kata Rino.

Debat berlanjut, akhirnya si sopir ambulans memilih diam setelah diberi penjelasan. Aksi dilakukan bukan kepada sopir melainkan manajemen RSUD Wonosari. Setelah mobil ambulans dihiasi stiker Rino dan Endro meninggalkan rumah sakit.

Endro mengatakan protes kali ini tidak mengatasnamakan masyarakat Gunungkidul. Dia prihatin dengan pelayanan rumah sakit pemerintah yang tidak profesional.

“Buruknya pelayanan rumah sakit tidak sekali dua kali ini, ini sudah berulang kali. Kami mendesak manajemen rumah sakit berbenah,” kata Endro.

Pejabat Pengelola Informasi Daerah (KPID) RSUD Wonosari Aris Suryanto menilai aksi kedua warga itu tidak jelas. Seharusnya sebelum datang menyampaikan pendapat dahulu dan membawa data.

“Kami belum tahu data pasien siapa? Dirawat kapan dan sebagainya. Apalagi aksi digelar di luar jam kerja,” kata Aris.

Dia meminta pelaku aksi memberikan data agar bisa ditindaklanjuti. Jika pasien memang memiliki jaminan kesehatan maka tidak mungkin mendapatkan pelayanan tidak maksimal.

“Jangan asal menuding pelayanan buruk. Harus ada data dan fakta biar semua jelas,” ujar Aris. (gun/ong)