SLEMAN – Pengedar uang palsu (upal) Kompol Maryadi dianggap telah mencoreng citra intitusi kepolsian. Bila terbukti melanggar hukum, karir perwira menengah yang kesehariannya bertugas di bagian pembinaan Polda DIJ itu akan segera tamat.

“Pecat. Saya proses pidana itu,” tegas Kapolda DIJ Brigjen Pol Prasta Wahyu Hidayat dengan menjawab pertanyaan wartawan soal keberadaan anggotanya yang memiliki puluhan juta upal di Gedung Serbaguna kompleks mapolda kemarin (20/10).

Kapolda menyatakan, Kompol Maryadi sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kini, perkaranya sudah dilimpahkan dari Propam ke Satuan Reskrim Polres Gunungkidul.

Prasta sangat konsen terhadap kasus ini. Bahkan, dia bertekad mengawal penanganan perkara upal tersebut hingga proses pengadilan. Bila secara hukum nantinya diputuskan bersalah, institusi kepolisian akan mengeluarkan surat pemberhentian tidak dengan hormat terhadap tersangka.

Kapolda telah berkoordinasi dengan Direktur Serse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda DIJ untuk memproses tersangka sesuai hukum yang berlaku. Tanpa tebang pilih. Akan ada pasal pemberatan yang akan ditetapkan. “Ini sudah tindak pidana, saya nggak akan melindungi,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya anggota Reskrim Polres Gunungkidul menangkap tersangka saat membelanjakan upal di sebuah warung di wilayah Saptosari. Dari penggeledahan di mobil tersangka ditemukan upal sebesar Rp 17 juta pecahan seratus ribu.

Polisi lantas melanjutkan peyelidikan dengan menggeledah rumah tersangka di Seyegan, Sleman. Dari situ polisi menemukan upal lagi senilai Rp 54 juta. Total upal yang diamankan polisi sebagai barang bukti sejumlah Rp 71 juta.

Direktur Reskrimum Kombes Pol Frans Tjahyono mengatakan, saat ini Sat Reskrim Polres Gunungkidul masih memperdalam proses penyidikan guna menguatkan bukti-bukti perkara yang menjerat Kompol Maryadi.

Frans menegaskan, pihaknya akan mem-back up sepenuhnya seluruh proses hukum yang sedang berjalan. “Hal-hal terkait pengembangan kasus masih terus didalami,” jelasnya.

Disinggung mengenai jaringan peredaran upal oleh tersangka, Frans mengaku hal itu termasuk bagian yang sedang didalami. Saat ini jajarannya baru mengungkap fakta bukti permulaan yang cukup, berupa upal dari tangan tersangka. “Penyidik masih bekerja untuk mengetahui asal muasal keberadaan upal tersebut,” katanya.(bhn/yog/ong)