SLEMAN – Kepolisian Daerah (Polda) DIJ mempersempit ruang gerak peredaran narkoba yang menggunakan media sosial (medsos) sebagai sarana komunikasi. Sejumlah akun medsos yang disinyalir mengedarkan narkoba kini dalam bidikan kepolisian.

Sejumlah kasus peredaran narkoba dengan menggunakan medsos sebagai sarana komunikasi terkuak. Direktur Reserse Narkoba Polda DIJ Kombes Pol R Andria Martinus menjelaskan mereka menggunakan kalimanat penawaran yang disamarkan. “Penawarannya tidak vulgar. Biaasanya akun-akun medsos menjual shabu dan ganja,” jelas Andria dalam keterangan persnya di Mapolda DIJ kemarin (21/10).

Sejumlah medsos yang kerap dijadikan sarana para pelaku untuk menjajakan ganja dan shabu dengan yakni Instagram dan Line. Apalagi, dengan aplikasi itu terkadang pengguna sangat sulit terlacak karena kerap menggunakan identtas yang tidak asli.

Para pelaku, diyakini Andria cukup jeli dan pintar memanfaatkan kelengahan petugas dengan memanfaatkan kecanggihan dunia maya.

Dari beberapa akun yang ditelusuri diantaranya kerap menggunakan nama Jogja Ready, Hijau Siap dan Putih Siap.

Dalam modusnya, sambun Andria, para pengedar dan pembeli ganja dengan langsung melakukan transaksi setelah terjadinya kesepakatan.

“Pembeli biasanya mentransfer sejumlah uang yang sudah disepakati melalui rekening bank,” jelasnya.

Kemudian, barang yang kebanyakan adalah ganja biasanya dikirim melalui jasa eksepedisi untuk ke luar kota dan atau bahkan ada juga yang dikirim lewat jasa ojek online bila dalam kota.

Terbongkarnya akun-akun medsos penjual narkoba merupakan bagian dari operasi narkoba Progo 2016 dalam kegiatan program 100 hari Kapolri mulai 15 Juli sampai 21 Oktober ini.

Dalam kurun waktu tersebut Polda DIJ dan polres-polres jajarannya berhasil mengamankan 118 tersangka penyalahgunaan narkoba. Dari ratusan tersangka itu, salah satu pembeli memesan dari aceh dan dikirimkan melalui ekspedisi.

“Memang kalau pemesanan ekspedisi kebanyakan ganja dari aceh,” terangnya.

Menurut dian, berdasarkan kasus yang dibongkar polda lain diketahui bahwa banyaknya ganja yang dijual ke luar provinsi tersebut disinyalir untuk kepentingan Pilkada Aceh tahun depan. “Tapi ini masih kami telusuri lebih jauh,” tandas Andria. (bhn/ong)