KULONPROGO – Pemerintah menargetkan pada 2019 harus sudah ada pesawat yang mendarat di New Yogyakarta Intenational Airport (NYIA). Demikian disampaikan Project Manager Kantor Proyek Pembangunan NYIA PT Angkasa Pura I, Sujiastono kemarin.

Dia mengatakan hal tersebut usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Kapolres Kulonprogo AKBP Nanang Djunaedi di Mapolres Kulonprogo kemarin. “Jangan lupa, NYIA akan menjadi bandara terbesar, Bahkan lebih besar dari Juanda (Surabaya) dan Ngurah Rai (Bali). NYIA akan menjadi kebanggaan bagi DIJ dan Kulonprogo,” kata Sujiastono.

NYIA akan menjadi bandara yang mengoneksi pusat wisata di Indonesia dan negara lain. Selama ini turis mancanegara masuk ke Indonesia setelah mampir di Singapura dan Bangkok.

“Dengan kapasitas NYIA yang memadai, mereka tidak perlu mampir ke sana (Singapura atau Bangkok), karena bisa masuk langsung ke NYIA,” jelas Sujiastono.

Direncanakan usai ground breaking, panjang landas pacu NYIA dibangun sepanjang 3.250 meter. Lalu akan disempurnakan menjadi sepanjang 3.600 meter.

“Itu lebih panjang dari Bandara Ngurah Rai atau Bandara Juanda yang hanya sepanjang 3.000 meter,” kata Sujiastono.

Pada MoU, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan. AP I menyampaikan bahwa aset NYIA tidak semata-mata aset perusahaan, melainkan aset negara, dengan demikian harus diamankan bersama-sama.

Hak-hak masyarakat terdampak bandara sudah diberikan semua, mulai dari hak menuntut, hak keberatan hingga hak penggantian uang ganti rugi dari negara melalui AP I. “Maka saat ini kita (masyarakat Kulonprogo) tinggal menatap ke depan, bahwa bandara ini akan berdiri dan akan menyejahterakan,” kata Sujiastono.

Nanang mengungkapkan setelah penandatanganan MoU maka tugas berat ada di pundak Polres Kulonprogo. “Kami harus memberikan keamanan, ketertiban dan kenyamanan, salah satunya menjaga seluruh aset AP I,” ungkap Nanang. (tom/iwa/ong)