JOGJA – Memasuki musim penghujan, warga diimbau untuk membuat sumur resapan. Gunanya, selain mengurangi titik genangan sekaligus menyimpan air hujan di dalam tanah.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Suyana mengungkapkan, air yang berlimpah saat musim penghujan harus dimanfaatkan. Air penghujan bisa disimpan untuk persediaan ketika musim kemarau tiba. “Meminimalkan air hujan langsung terbuang ke laut. Air hujan bisa disimpan untuk menambah cadangan air tanah permukaan,” ujarnya, kemarin (20/10).

Penyimpanan air hujan ke dalam tanah selain memperkaya cadangan, juga mampu bermanfaat untuk meningkatkan kualitas air. Sumur warga yang berasal dari air tanah permukaan akan meningkat kualitasnya. “Untuk mengurangi air yang sudah tercemar bakteri E-Coli,” ujarnya.

Di lain pihak, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jogja mendukung upaya memperbanyak pembuatan sumur resapan selama musim hujan. Sebab, sumur resapan sebagai salah satu solusi mengatasi pencemaran air.

“Mumpung masih musim hujan, masyarakat dapat berkontribusi membuat sumur resapan untuk konservasi sumber daya air,” tandas Direktur Walhi Jogjakarta Halik Sandera.

Berdasarkan survei kualitas air Badan Pusat Statistik (BPS) Jogja, air dari sumur warga telah tercemar bakteri E-Coli. Sumber air layak minum yang tercemar sebanyak 87,8 persen dan sumber air tidak layak telah tercemar bakteri E-Coli sebanyak 95,5 persen.

Menurut Halik, sumur resapan merupakan teknologi sederhana yang dapat dibuat oleh masyarakat secara mandiri untuk mengatasi persoalan pencemaran air. Selain itu, sumur resapan juga bisa mencegah terjadinya bencana banjir serta memperbaiki struktur tanah.

Sumur resapan itu, menurut dia, bukan hanya menjadi solusi menyelesaikan permasalahan air bersih. Air hujan bisa menjadi sarana penyimpanan air sebagai candangan saat terjadi kekeringan.

Halik mengatakan, selain faktor terus bertambahnya penduduk yang menghasilkan limbah domestik, pencemaran sumber air juga terus diperparah dengan bertambahnya perhotelan. Ini khusus di Kota Jogja dan Sleman yang banyak menggunakan air tanah dalam. Penggunaan air tanah dalam secara berlebihan juga memicu menipisnya air tanah permukaan sebagai sumber air utama masyarakat.

“Semakin gencarnya penggalian air tanah dalam, dapat memicu meresapnya air tanah permukaan ke sumber air tanah dalam,” katanya. (eri/ila/ong)