SLEMAN – Sekembali dari lawatannya ke Inggris, Bupati Sleman Sri Purnomo dihadapkan pada persoalan pelik yang telah lama menjadi penyakit akut. Yakni, keberadaan toko modern bandel yang nekat beroperasi meski telah disegel oleh Satpol PP. Yang terbaru adalah waralaba Alfamart Ampel Gading di Jalan Ring Road Utara, Condongcatur, Depok.

Satpol PP telah menutup paksa toko tersebut dan memasang segel di roling door, Rabu (19/10) pagi. Siangnya, toko itu nekat kembali beroperasi. Nah, kemarin (20/10) pagi Satpol PP kembali mendatangi toko tersebut dan kembali memasang segel. Tapi siang harinya Alfamart tetap buka setelah salah seorang pegawai membongkar segel. Ternyata, hal itu juga terjadi di dua Alfamart lain. Yakni di Adi Sutjipto dan Nologaten.

Anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Sleman Hempri Suyatna menilai sikap manajemen Alfamart bukan saja telah melecehkan Satpol PP. Bupati sebagai pucuk pimpinan pemkab juga ikut dilecehkan. “Lebih dari itu telah terjadi pelecehan terhadap aturan hukum. Baik peraturan daerah maupun undang-undang,” ungkapnya.

Melihat kondisi itu, Hempri mendorong bupati segera turun tangan tanpa tebang pilih. Tak ada salahnya bupati melakukan inspeksi ke lapangan bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait, dalam hal ini Satpol PP, Disperindagkop, serta Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu. Juga kepolisian. Karena membongkar segel termasuk pelanggaran pasal 232 KUHP. Pelaku bisa diancam pidana penjara. “Presiden Jokowi saja mau turun ke lapangan kok, demi menegakkan peraturan,” ucap pengamat usaha mikro UGM ini.

Hempri juga meminta pemerintah menelusuri kemungkinan adanya oknum aparat yang menjadi beking toko tersebut.

Sementara Kasi Penegakan Perda Satpol PP Rusdi Rais mendorong pihak kepolisian segera turun tangan. Ditegaskan, pencopotan segel merupakan pelanggaran pidana yang sifatnya bukan delik aduan. Artinya, polisi bisa menindak langsung perkara tersebut. “Jika butuh laporan, kami siap membuatnya,” ujar Rusdi.

Dari pantauan, karyawan toko sengaja sembunyi-sembunyi mengelabui petugas. Saat dirazia, mereka menutup toko. Padahal ada di dalamnya. Setelah ditunggu, akhirnya karyawan yang bersembunyi keluar.

“Kami merasa seperti dipermainkan kalau seperti ini,” sesalnya.

Struk penjualan yang berserakan di sekitar halaman toko menjadi bukti pelanggaran. Itu terlihat pada keterangan waktu transaksi yang tercantum. Yakni pada Rabu siang dan malam. Bahkan Kamis pagi kemarin. Padahal, izin gangguan (HO) Alfamart Ampel Gading telah mati sejak 2015. “Ini bukti kuat adanya pelanggaran. Nama karyawan dan jam transaksi tercantum pada struk,” tegasnya.

Ternyata, para karyawan toko mengetahui bahwa tindakan mereka melanggar aturan. Namun, mereka mengaku tak bisa berbuat banyak karena diperintah oleh manajemen toko untuk tetap beroperasi.

“Kami sekadar mengikuti instruksi dari kantor manajemen di Delanggu, Klaten,” beber Novita, karyawan Alfamart Ampel Gading.

Purwanto, penjaga Alfamart Nologaten menuturkan hal yang sama. Dia mendapat pernitah melalui telepon dari seseorang bernama Rinto, yang disebut sebagai koordinator wilayah Alfamart Jogjakarta-Klaten.

Mendengar jawaban itu, Rusdi Rais berencana mencari manajemen Alfamart untuk diserahkan ke pihak kepolisian.(dwi/yog/ong)